Pasar Cerna Notulensi Rapat The Fed, Rupiah Kembali Terpental ke Zona Merah

Rupiah - studentpreneur.coRupiah - studentpreneur.co

Jakarta mengawali pagi hari ini, Kamis (22/2) dengan pelemahan sebesar 25 poin atau 0,18 persen ke posisi Rp 13.643 per AS. Sebelumnya, Rabu (21/2), Garuda berakhir terdepresiasi 3 poin atau 0,02 persen per USD usai diperdagangkan pada rentang angka Rp 13.573 hingga Rp 13.619 per AS.

dolar AS terpantau menguat terhadap sejumlah mata uang utama sebesar 0,37 persen menjadi 90,048 di akhir perdagangan Rabu atau Kamis WIB. Penguatan the ini ditopang oleh aksi para pelaku yang masih mencermati risalah pertemuan kebijakan yang baru saja dirilis.

Pada Rabu The Fed melaporkan risalah dari pertemuan kebijakan Januari 2018. Berdasarkan hasil pertemuan tersebut, para pejabat The Fed melihat peningkatan dan kenaikan inflasi Amerika Serikat sebagai justifikasi untuk terus menaikkan suku bunga acuan secara bertahap. “Hampir semua peserta melihat inflasi bergerak ke arah sasaran the Fed inflasi 2,0 persen selama jangka menengah, ketika tetap berada di atas tren dan pasar tenaga kerja tetap kuat,” demikian bunyi risalah tersebut, seperti dilansir Antara.

Sementara itu, menurut Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih, rupiah kembali anjlok lantaran terdampak faktor eksternal. “Pada kuartal pertama ini, AS mengeluarkan obligasi dalam jumlah besar sekitar USD 480 miliar,” ungkap Lana, seperti dilansir Kontan. Karena adanya dana yang masuk melalui obligasi, dolar AS pun beranjak menguat terhadap sejumlah mata uang dunia.

Pada perdagangan hari ini, Lana memprediksi rupiah akan kembali melemah walaupun pelemahannya bersifat terbatas. Lana mengatakan bahwa hasil notulensi FOMC Meeting Minutes sehubungan dengan rencana kenaikan suku bunga acuan telah diantisipasi oleh pelaku pasar.

Rupiah pun hanya mengalami koreksi terbatas lantaran selama beberapa pekan terakhir telah mengalami pelemahan yang cukup tajam di pasar spot. “Secara teknikal mestinya menguat, namun, karena faktor eksternal lebih dominan sehingga rupiah masih belum bisa menguat,” ungkap Lana.

Loading...