Pasar Cerna Laporan Beige Book, Rupiah Hari Ini Dibuka Bertahan di Zona Hijau

Rupiah - en.tempo.coRupiah - en.tempo.co

Jakarta mengawali pagi hari ini, Kamis (13/9), dengan penguatan sebesar 22,5 poin atau 0,15 persen ke posisi Rp 14.810 per dolar AS. Kemarin, Rabu (12/9), Garuda berakhir terapresiasi 24 poin atau 0,16 persen ke level Rp 14.833 per dolar AS setelah diperdagangkan pada rentang angka Rp 14.800 hingga Rp 14.900 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap enam mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Rabu (12/8) atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS turun 0,47 persen menjadi 94,8035 lantaran para pelaku tengah mencerna hasil Beige Book yang baru dirilis oleh Federal Reserve.

Berdasarkan Beige Book yang dilaporkan The Fed pada sore hari, ekonomi Amerika Serikat berkembang pada kecepatan moderat hingga akhir bulan Agustus 2018. Kemudian bisnis-bisnis pada umumnya tetap optimis terkait prospek jangka pendek, walaupun sebagian besar Distrik Federal Reserve mencatat adanya kekhawatiran dan ketidakpastian terkait ketegangan perdagangan. Akibat kekhawatiran itu, beberapa bisnis memutuskan untuk mengurangi atau menunda investasi modal mereka.

Sementara itu, dari sektor ekonomi Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa Indeks Produsen untuk permintaan akhir menurun 0,1 persen pada Agustus 2018 yang telah disesuaikan secara musiman. Angka tersebut lebih rendah dari perkiraan pasar untuk kenaikan sebesar 0,2 persen. Pada basis yang tidak disesuaikan, Indeks Permintaan Akhir naik 2,8 persen untuk 12 bulan yang berakhir pada Agustus.

Walaupun beberapa hari ini dolar AS mengalami penurunan, ekonom Samuel Sekuritas , Ahmad Mikail berpendapat bahwa rupiah masih berada pada tren melemah. Terlebih karena indeks dolar AS masih pada level yang kuat di kisaran 95.

Selain itu, menurut Ahmad dolar AS masih tertopang oleh isu perang dagang antara AS dengan China pada pekan ini. “China berencana mengadukan AS ke WTO setelah sebelumnya AS berencana untuk menaikkan impor barang China sebesar US$ 200 miliar,” ungkap Mikail, seperti dilansir Kontan.

Di sisi lain, dari hasil lelang Surat Utang Negara (SUN) kemarin rupanya berhasil menyerap dana hingga Rp 16,21 triliun untuk memenuhi sebagian pembiayaan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan total penawaran Rp 36,88 triliun. Menurut keterangan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, lelang SUN berhasil memenuhi target indikatif sebesar Rp 10 triliun.

 

Loading...