Pasar Cerna Data Ekonomi AS, Rupiah Diprediksi Lanjutkan Pelemahan di Akhir Pekan

Rupiah - beritagar.idRupiah - beritagar.id

uang Garuda dibuka melemah 8 poin atau 0,06 persen ke level Rp 14.194 per AS di awal perdagangan pagi hari ini, Jumat (26/4). Sebelumnya, kurs berakhir terdepresiasi 81 poin atau 0,57 persen ke posisi Rp 14.186 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,04 persen menjadi 98,2051 lantaran para pelaku masih mencerna sejumlah ekonomi Amerika Serikat yang positif serta menantikan rilis produk domestik bruto (PDB) AS untuk kuartal I 2019 pada Jumat waktu setempat.

Departemen Amerika Serikat melaporkan, pada pekan yang berakhir 20 April 2019, klaim pengangguran awal AS, cara kasar untuk mengukur tingkat PHK berada di level 230.000, naik 37.000 dari tingkat yang direvisi minggu sebelumnya. Angka tersebut dilaporkan lebih tinggi dari prediksi pasar.

Sedangkan Departemen Perdagangan AS melaporkan bahwa pesanan baru untuk barang-barang modal buatan AS mengalami peningkatan sebesar 2,7 persen pada Maret 2019 menjadi USD 258,5 miliar. Perolehan angka tersebut melebihi perkiraan pasar sebelumnya.

Berdasarkan data tersebut, pesanan baru untuk barang-barang tahan lama AS meningkat paling banyak dalam 8 bulan, demikian seperti dilansir Reuters melalui Okezone. Ini sekaligus mengikuti data AS terbaru lainnya yang menunjukkan kekuatan dalam sektor penjualan ritel dan ekspor, yang sekaligus berhasil meredam kekhawatiran ekonomi AS mengalami perlambatan cukup tajam.

“Peningkatan kuat dalam pesanan barang modal yang mendasari pada Maret, bersama dengan penjualan ritel yang lebih kuat bulan lalu, menunjukkan ekonomi membawa momentum sedikit lebih ke kuartal kedua,” ujar Michael Pearce, ekonom senior AS di Capital Economics.

Pada perdagangan Jumat ini rupiah juga diprediksi masih akan melanjutkan pelemahannya. “Dollar AS masih akan unggul terhadap mata uang utama dunia seperti euro dan pound sterling. Dari Inggris adanya ketidakpastian Brexit setelah kembalinya parlemen dari libur Paskah membawa putaran baru adanya desas-desus dari anggota parlemen berhaluan konservatif yang ingin menggulingkan Theresa May dari jabatannya sebagai perdana menteri Inggris,” kata Direktur Utama Garuda Berjangka, Ibrahim, seperti dilansir Kontan.

Loading...