Pasar Cerna Data-Data Ekonomi Teranyar AS, Rupiah Melemah di Awal Dagang

Rupiah - www.viva.co.idRupiah - www.viva.co.id

Jakarta dibuka melemah sebesar 7 poin ke level Rp 14.074 per di awal pagi hari ini, Jumat (12/7). Sebelumnya, Kamis (11/7), mata uang Garuda berakhir terapresiasi sebesar 65 poin atau 0,46 persen ke posisi Rp 14.067 per USD.

Indeks yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau cenderung datar. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS yang dilaporkan turun 0,05 persen menjadi 97,0534 lantaran para pelaku pasar masih berusaha mencerna sejumlah terbaru Amerika Serikat.

Pada Kamis (11/7), Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat melaporkan bahwa dalam pekan yang berakhir 6 Juli 2019, klaim data pengangguran awal AS untuk mengukur angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) berada di level 209.000, turun 13.000 dari tingkat yang direvisi minggu sebelumnya, demikian seperti dilansir Antara. Sementara itu, menurut pendapat para ekonom yang disurvei oleh MarketWatch, klaim baru mingguan diprediksi mencapai total 221.000 yang disesuaikan secara musiman.

Kemudian Biro Statistik Tenaga Kerja menambahkan, Indeks Konsumen (IHK) AS mengalami peningkatan sebesar 0,1 persen pada Juni, kenaikan yang sama seperti bulan Mei sebelumnya. Sedangkan IHK inti, yakni ukuran inflasi lain yang tidak termasuk makanan dan energi juga naik 0,3 persen pada Juni. “Meskipun masih rendah, inflasi IHK naik sedikit lebih besar dari yang diperkirakan pada Juni. Tidak ada alasan untuk berpikir mereka akan bertahan,” kata Chris Low, kepala ekonom di FTN Financial.

Di sisi lain, testimoni dari Gubernur Jerome Powell kemarin telah berhasil membuat rupiah menguat. Menurut Ekonom Pasar Uang Mandiri Sekuritas Reny Eka Putri, pasar menganggap pernyataan Powell bernada dovish, sehingga dolar AS cenderung ditinggalkan. “Karena hal tersebut meningkatkan ekspektasi penurunan suku bunga The Fed akhir bulan ini,” beber Reny, seperti dilansir Kontan.

Direktur Garuda Berjangka Ibrahim pun menambahkan bahwa penurunan suku bunga AS kemungkinan akan terjadi lantaran The Fed merespons kondisi ekonomi AS dan global. “Saat ini ekonomi AS terancam perang dagang dan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia,” tutupnya. Dengan demikian, Bank Indonesia (BI) pun berpeluang untuk turut memangkas suku bunganya tahun ini.

Loading...