Pasar Cenderung Wait & See, Rupiah Naik Tipis di Pembukaan

Rupiah masih mampu di awal dagang Selasa (7/3) ini karena pelaku cenderung wait & see terkait AS. Seperti diwartakan Index, rupiah mengawali perdagangan hari ini dengan tipis 5 poin atau 0,04% ke Rp13.345 per dolar AS. Kemudian, pada pukul 08.30 WIB, spot lanjut menguat 1 poin atau 0,01% ke Rp13.349 per dolar AS.

“Pasar tengah berhati-hati melihat perkembangan rencana kenaikan usai pidato Janet Yellen,” ujar Treasury BNI, Nurdiyanto. “Selain itu, pasar juga memantau setiap data ekonomi AS yang akan dirilis pada akhir pekan mendatang.”

Dalam pidatonya pekan lalu, Yellen mengemukakan akan memantau data tenaga kerja dan sebelum menetapkan suku bunga The Fed. Jadi, faktor penentu baru akan terlihat pada akhir pekan ini. “Sebelumnya, rupiah menguat berkat aksi ambil untung terhadap dolar AS. Bargain hunting ini tidak hanya terjadi pada mata uang Garuda, tetapi juga mata uang Asia lainnya,” sambung Nurdiyanto.

Sementara itu, Research & Analyst Monex Investindo Futures, Putu Agus Pransuamitra, menambahkan bahwa aksi wait & see yang dilakukan para pelaku pasar ini membuat indeks dolar AS berpotensi tertekan. “Rupiah masih bisa melanjutkan penguatan karena data penting AS baru akan dirilis pada pertengahan pekan,” ujar Putu.

Putu pun memprediksi, hari mata uang Garuda akan bergerak menguat terbatas di rentang Rp13.290 hingga Rp13.400 per dolar AS. Sementara, menurut perhitungan Nurdiyanto, rupiah akan bergulir di kisaran Rp13.250 hingga Rp13.380 per dolar AS.

Pada perdagangan kemarin (6/3), rupiah mampu mengakhiri transaksi dengan penguatan sebesar 33 poin atau 0,25% ke level Rp13.350 per dolar AS, setelah diperdagangkan di kisaran Rp13.340 hingga Rp13.375 per dolar AS. Penguatan rupiah ini sejalan dengan kinerja dolar AS yang melemah bersamaan dengan penurunan imbal hasil obligasi AS akibat tertekan penguatan kinerja yen pasca-peluncuran rudal balistik oleh Korea Utara.

Loading...