Pasar Beralih ke Aset Dolar, Rupiah Keok 55 Poin di Tutup Dagang

Seperti diprediksi sebelumnya, pidato The Fed, Janet , yang mengindikasikan kenaikan suku bunga The Fed bakal terjadi dalam waktu dekat membuat dolar AS sumringah sekaligus menekan . Menurut Index pukul 15.59 WIB, Garuda menutup perdagangan hari ini (29/8) dengan pelemahan sebesar 55 poin atau 0,42% ke level Rp13.267 per dolar AS.

Pelemahan rupiah sudah terjadi sejak awal dagang dengan anjlok 58 poin atau 0,44% ke level Rp13.270 per dolar AS. Lalu, jeda siang, rupiah lanjut 50 poin atau 0,38% ke Rp13.262 per dolar AS. Jelang tutup dagang, atau pukul 15.36 WIB, mata uang Garuda masih terseok 56 poin atau 0,42% ke posisi Rp13.268 per dolar AS.

“Pekan lalu, rupiah bisa menguat karena pelaku masih belum mengetahui persis isi pidato Yellen,” ujar Analis Central Capital Futures, Wahyu Tri Wibowo. “Ternyata, orang nomor satu di itu mengindikasikan suku bunga AS bisa naik sebelum akhir tahun ini.”

Di samping itu, tambah Wahyu, sebelumnya para pejabat The Fed juga sudah memberikan dukungan terhadap kenaikan suku bunga tahun ini. “Hal tersebut membuat rupiah tertekan sepanjang perdagangan hari ini,” sambung Wahyu.

Meski belum ada kepastian kapan The Fed bakal menaikkan suku bunga, namun investor diduga terpengaruh pernyataan pejabat Wakil Gubernur The Fed, Stanley Fischer, tentang kemungkinan kenaikan suku bunga AS pada September nanti. Investor pun kemudian mengambil langkah awal dengan mengalihkan investasi mereka ke aset-aset bermata uang dolar AS.

Mengutip Bloomberg, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September nanti memang semakin besar. Dalam sepekan terakhir, tingkat probabilitas meningkat dari semula 22% menjadi 42%. Namun, kenaikan suku bunga ini masih menunggu -data AS terbaru, terutama angka peningkatan lapangan kerja. Saat ini, suku bunga The Fed berada di level 0,25% hingga 0,50%.

Loading...