Pasar Asia Tenggara Loyo Menyusul Rupiah

IHSG kacau saham Asia Tenggara tampak terseret pada arus pada (Senin, 9/3) menyusul depresiasi yang sudah terjadi lebih dulu, serta prospek yang positif di pihak Dolar Amerika. Saham Asia tampak , sementara Dolar masih semakin bertengger dengan kuatnya setelah Data Lapangan Pekerjaan di Amerika Serikat diklaim meningkat, dan diperkuat lagi oleh adanya harapan yang menyertai kemungkinan Federal Reserve Amerika akan menaikkan suku bunga lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya.

Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan tercatat turun sebesar 1,3% meskipun sempat 1,2% pada hari Jumat lalu (6/3) pada sesi penutupan menyentuh rekor baru di posisi 5.514,79. Rupiah yang sempat menghantam posisi terlemahnya selama 17 tahun terakhir ini dimaknai sebagai Emerging Asia yang melemah.

Broker dari Bahana Securities memangkas rating pada pasar saham untuk tetap menjaga kondisinya dalam keadaan netral menyusul terjadinya depresiasi Rupiah. “Untuk setiap 1% depresiasi Rupiah terhadap Dolar, pertumbuhan laba di pasar saham akan turun 0,8%, ” ujar Perwakilan Bahana Securities yang tidak disebutkan namanya.“Hal ini menunjukkan bahwa rekor tertinggi baru-baru ini tidak disertai dengan pertumbuhan EPS di pasar. Berbekal data ini, kami meyakini Rupiah akan bergerak menguat ke depannya atau Indeks yang akan turun, ” tambahnya.

Dari pantauan Reuters, 16 dari 21 pakar ekonomi dalam jajak pendapat memprediksi Rupiah akan ditutup menguat 2 basis poin, sedangkan sisanya mengharapkan Rupiah dapat naik hingga 25 basis poin di sesi penutupan perdagangan.

Loading...