Pamor Kampus AS Turun di Kalangan Pelajar Asia, Ini Penyebabnya

Mahasiswa Internasional - optima-education.comMahasiswa Internasional - optima-education.com

TOKYO – Dalam puluhan tahun, bersekolah atau melanjutkan perguruan tinggi di AS adalah impian banyak di kawasan , termasuk Indonesia. Gelar internasional adalah satu alasan mengapa remaja di rela melintasi Pasifik untuk menuju Paman Sam. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, perguruan tinggi AS tampaknya telah mulai kehilangan pamor di kalangan dari Benua Kuning.

Seperti yang diturunkan oleh Nikkei, internasional di AS sedang menurun. Untuk tahun akademik 2016-2017, mahasiswa turun 3,3%, penurunan pertama dalam lebih dari satu dekade. Angka ini diperkirakan telah jatuh 6,9% lagi pada tahun akademik saat ini, menurut dari Institut Internasional New York. Pelajar asal Asia tentu menjadi faktor kunci, karena mereka mencapai dua pertiga dari pendaftaran internasional di AS.

Sementara, British Council memprediksi pertumbuhan traffic mahasiswa outbound melambat menjadi 1,7% per tahun dari 2015 hingga 2027, turun dari 5,7% untuk periode 2000 hingga 2015. Menurut dewan tersebut, proyeksi perlambatan pertumbuhan global mahasiswa outbound jangka panjang sebagian besar disebabkan oleh investasi lokal dalam pendidikan tinggi.

Menurut data terbaru dari World University Ranking yang dihimpun Time Higher Education, tiga kampus di Asia berhasil masuk dalam 30 besar untuk pertama kalinya. Selain itu, lebih banyak perguruan tinggi Asia yang menawarkan program Sarjana yang diakui secara internasional, dengan yang lebih terjangkau, yang akhirnya menarik minat mahasiswa lokal.

Ini memperluas pilihan bagi siswa yang menginginkan belajar di luar negeri tetapi memiliki sarana yang terbatas atau enggan bepergian jauh dari keluarga mereka. Bagi beberapa orang, itu juga berarti mereka dapat menghindari pusaran politik Presiden AS, Donald Trump. Kekerasan bersenjata dan sikap anti-imigran dari Trump adalah dua alasan umum untuk menghindari pantai AS.

Mahasiswa asal Singapura, Leo Sylvia Han Yun, mengatakan ia lebih memilih Institut Teknologi Tokyo untuk melanjutkan studi. Dalam memilih tujuan, perempuan berusia 23 tahun itu mengaku tidak ingin mengambil risiko. Baginya, keselamatan adalah prioritas utama. Kasus-kasus seperti pembunuhan dua insinyur IT India di bar di Kansas pada awal 2017, atau penembakan markas YouTube pada 3 April lalu, memang membuat banyak mahasiswa berhenti kuliah.

Perdebatan mengenai imigran juga membuat siswa berpikir dua kali untuk melanjutkan studi di AS. Pemerintahan Trump telah menggugat program visa H-1B, yang memungkinkan perusahaan AS untuk mempekerjakan pekerja asing yang sangat terampil. Visa itu, menurut Trump, seharusnya tidak pernah digunakan. Dengan ketidakpastian atas prospek pekerjaan, mahasiswa lantas berpikir mengapa juga untuk memutuskan belajar di AS.

“Dalam kasus khusus saya, saya tidak ingin mengambil risiko itu,” kata Kumar Siddhartha, seorang mahasiswa asal India, lulusan Teknik Mesin Institut Teknologi Tokyo. “Jepang memiliki teknologi yang canggih, sedangkan -negara lain (di Asia) juga memiliki pasar. Aku bisa membuat link untuk bekerja.”

Data tentang pergerakan siswa di Asia sebenarnya telah menunjukkan pergeseran sebelum Trump resmi menjadi presiden, dengan negara-negara seperti China dan Jepang menjadi tempat yang lebih populer untuk belajar di luar negeri. Dari 2014 hingga 2016, jumlah mahasiswa dari negara-negara Asia lainnya di Jepang naik 36%, menjadi 173.303 orang, sementara angka mahasiswa untuk China naik 18% menjadi 264.976 orang, menurut Central for Strategic & Studies dan Kementerian Pendidikan Jepang.

Loading...