Pakai Kotak Suara ‘Kardus’, KPU Ingin Anggaran Pemilu yang Murah

Kotak suara kardus KPU (sumber: beritasatu.com)Kotak suara kardus KPU (sumber: beritasatu.com)

17 April nanti, Indonesia bakal menggelar pesta demokrasi terbesar 2019. Dua pasang kandidat siap bertarung memenangkan suara rakyat untuk memimpin negeri ini selama 5 tahun ke depan. Ada satu hal berbeda dalam kali ini. Jika selama ini KPU menggunakan suara yang terbuat dari plat aluminium, pada 2019 nanti kita bakal memasukkan kertas suara ke dalam kotak berbahan .

Topik kotak suara jenis baru ini sempat meramaikan jagat media sosial. Padahal, kotak suara ‘kardus’ ini bukan pertama kali dipakai oleh KPU. Pembahasan soal kotak suara ‘kardus’ ini dipertanyakan oleh sejumlah netizen. Ada yang mempertanyakan biayanya hingga keamanannya.

Pemilu yang murah menjadi fokus KPU saat ini dan mendatang. Salah satu wujudnya ditampilkan KPU melalui penggunaan kotak suara berbahan karton kedap air. “Waktu itu kami sudah berketetapan bahwa kita harus bikin pemilu ini murah,” ucap Ketua KPU Arief Budiman, dilansir Detik. ‘Kardus’ yang ramai dibahas itu sebenarnya merupakan karton kedap air. Penggunaan ini sudah diatur di KPU (PKPU) nomor 15 tahun 2018.

Untuk urusan kotak suara, ia menyoroti soal produksi hingga penyimpanannya. Sementara sebelumnya kotak suara berbahan aluminium, Arief mengatakan, KPU harus menganggarkan lagi untuk penyimpanannya.

“Sewa gudang yang besar itu biayanya . Apalagi tiap tahun biayanya terus meningkat. Setelah kita hitung, kalau dia disimpan dalam waktu lima tahun, itu biayanya bisa sama dengan biaya produksi yang baru. Makanya kemudian KPU berpikir mencari kotak suara yang bisa sekali pakai dan bahannya murah,” katanya.

Kotak suara ‘kardus’ itulah, disebut Arief, yang dipilih karena mudah dilipat sehingga mudah didistribusikan. Kotak suara itu nantinya untuk sekali pakai sehingga tidak perlu disimpan. “Biaya produksi ini seingat saya mungkin hanya seperempatnya dari biaya produksi kalau kita pakai aluminium,” ujar Arief. Ia mengatakan, kotak suara berbahan dasar karton sekitar Rp100.000. “Itu baru produksinya ya. Belum ongkos distribusinya,” tandasnya. Untuk Pemilu 2019, KPU setidaknya memerlukan 3 juta kotak suara.

Ia memperkirakan kebutuhan pengadaan kotak suara ‘kardus’ itu sebesar Rp 298 miliar setelah dilakukan lelang. Sedangkan untuk bahan aluminium, dia memprediksi harganya akan lebih mahal tiga kali lipat dibanding kotak suara ‘kardus’. “Kita ketika merancang sekitar Rp 948 miliar. Kemudian ketika mau pengadaan kita cek lapangan kita bikin HPS itu sekitar Rp 500 sekian miliar. Kemudian, setelah dilelang, kebutuhannya hanya Rp 298 miliar. Salah satunya (karena) pakai karton itu,” ujar Arief.

Loading...