Pabrikan Pindah dari China, Manufaktur di Asia Tenggara Tumbuh 6,2%

Pabrik Manufaktur China - ivoox.idPabrik Manufaktur China - ivoox.id

MANILA – di Tenggara meningkatkan mereka dengan laju yang lebih cepat karena meningkatnya biaya di China, yang mendorong banyak untuk memindahkan basis . Indeks di ini naik sebesar 6,2 persen sepanjang semester pertama 2018 setelah perusahaan melakukan diversifikasi basis.

Diberitakan Nikkei, indeks produksi manufaktur yang disusun oleh Japan Center for Economic Research menunjukkan pertumbuhan rata-rata sebesar 6,2 persen secara year-on-year untuk lima negara besar di wilayah Asia Tenggara di periode Januari-Juni 2018, hanya sedikit di bawah China yang mencatatkan angka 6,9 persen. yang kuat dan permintaan domestik yang tinggi mendorong aktivitas manufaktur di kawasan ini, selain efek perang perdagangan antara Washington dan Beijing.

Indeks ini membandingkan volume produksi dengan periode dasar dan menunjukkan aktivitas manufaktur. Lima negara, yaitu Indonesia, Thailand, Malaysia, Filipina, dan Singapura (setengah dari anggota ASEAN), mencatat peningkatan 4,5 persen secara kolektif pada tahun 2017. Pertumbuhan mereka telah berlanjut sejak 2015, sementara China justru mengalami tren melambat sejak meraih pertumbuhan puncak sebesar 15,7 persen di tahun 2010.

Indeks manufaktur Filipina naik 13,8 persen pada semester pertama di tengah dorongan dari pemerintahan Rodrigo Duterte. Indeks di Singapura meningkat 10,7 persen, hampir sama dengan tahun 2017, sementara Indonesia, Malaysia, dan Thailand masing-masing mencatat pertumbuhan sekitar 4 persen hingga 5 persen. Setiap negara menikmati ekspor yang sehat, dengan proyek dan peningkatan pendapatan yang mendukung pertumbuhan permintaan domestik.

Biaya tenaga kerja yang lebih tinggi di Negeri Panda adalah salah satu faktor yang mendorong produsen untuk memindahkan produksi ke tempat lain yang disebut sebagai ‘China-plus-one strategies’. Pabrikan mobil asal Jerman, BMW, membuat beberapa model di Thailand, hub industri otomotif, dan ekspor ke China. Sementara, pabrik-pabrik jahit padat karya sedang bergeser ke negara dengan upah yang lebih rendah, seperti ke Vietnam dan Filipina.

Perusahaan juga menyeret jaringan produksi mereka untuk menghindari perang perdagangan antara AS dengan China. Pemasok komponen daya asal Taiwan, Delta Electronics, berencana mengubah Delta Electronics (Thailand) menjadi anak perusahaan untuk menyebar basis produksinya, yang saat ini terkonsentrasi di daratan China sehingga rentan terhadap tarif AS.

New Kinpo Group, pembuat elektronik Taiwan, dikabarkan mencari jalan untuk membangun fasilitas baru di Filipina. Perusahaan ini mengoperasikan pabrik di China daratan, tetapi CEO Simon Shen mengatakan mereka mencari ke Asia Tenggara sebagai basis manufaktur saat tensi perdagangan meningkat. Perusahaan juga meningkatkan produksi di pasar seperti Thailand dan Malaysia.

Asia Tenggara juga telah menipiskan keunggulan China dalam hal pertumbuhan domestik bruto riil. Kelima negara utama menunjukkan kenaikan 4,5 persen di sektor manufaktur dan industri sekunder lainnya pada semester pertama, kurang dari 2 persentase poin di bawah kenaikan 6,1 persen untuk China. Pada tahun 2011, China berada jauh di depan dengan lebih dari 7 poin persentase.

Meski pertumbuhan manufaktur China telah melambat karena menyesuaikan tingkat produksi, dalam skala lebih besar, kekuatan negara ini tetap jauh di depan tetangganya. Selain itu, walau tekanan perang perdagangan menguntungkan Asia Tenggara, ekspor bagian-bagian dan komponen yang terikat untuk pabrik-pabrik China bisa melambat. “Jika siklus ekonomi AS memasuki fase ke bawah pada 2019, Asia Tenggara juga bisa menghadapi perlambatan,” kata Makoto Saito dari NLI Research Institute.

Loading...