Otot Mengendur, Rupiah Dibuka Melemah 0,11%

Rupiah - www.brecorder.comRupiah - www.brecorder.com

JAKARTA – Otot tampaknya mulai mengendur setelah menguat selama enam hari beruntun. Seperti dipaparkan Index, Garuda membuka Rabu (26/6) dengan melemah 15 poin atau 0,11% ke level Rp14.140 per AS. Sebelumnya, spot berakhir menguat 22 poin atau 0,15% di posisi Rp14.125 per AS pada Selasa (25/6) kemarin.

“Penguatan rupiah kemarin masih disetir oleh sentimen eksternal,” ujar analis Monex Investindo Futures, Andian, dilansir Kontan. “Salah satunya adalah indikasi pemotongan suku bunga AS (Fed Fund Rate ) pada Juli mendatang yang menyeret dolar AS. Ada juga sentimen AS yang kembali memberi sanksi kepada Iran, yang memicu kecemasan terhadap greenback.”

Sementara itu, ekonom Bank Central Asia, David Sumual, menuturkan bahwa keperkasaan rupiah terhadap dolar AS akibat sentimen internal berupa neraca perdagangan Indonesia bulan Mei 2019 yang dilaporkan 210 juta dolar AS. Sementara, dari pasar global, investor masih menantikan hasil pertemuan KTT G20, termasuk pertemuan Presiden AS, Donald Trump, dan Presiden China, Xi Jinping.

Rencana pertemuan Trump dan Xi Jinping akan dilakukan dalam agenda KTT G20 di Osaka, Jepang akhir pekan ini. Beijing pun siap bernegosiasi dengan Washington. Wakil Menteri Perdagangan China, Wang Shouwen, menegaskan kedua pihak siap berkompromi untuk mencapai kesepakatan. Dialog akan berlangsung dengan prinsip saling menghormati demi kepentingan bersama.

“Perkembangan dagang AS dan China semakin positif. Jalan menuju damai dagang semakin terbuka, kala Presiden Trump dikabarkan akan menerima dengan senang hati apa pun hasil pertemuan tersebut,” timpal Direktur Utama PT Garuda Berjangka, Ibrahim. “Perdamaian dagang antara AS dan China akan membuat harapan pertumbuhan global yang lebih baik.”

Mengenai pergerakan rupiah pada hari, ketiga ekonom tersebut kompak menyebutkan bahwa mata uang Garuda masih berpotensi menguat. Ibrahim memprediksi bergerak di kisaran Rp14.070 hingga Rp14.170 per dolar AS, Andian memperkirakan bergerak di rentang Rp14.020 hingga Rp14.350 per dolar AS, sedangkan David menilai mata uang domestik akan bergulir di Rp14.090 hingga Rp14.150 per dolar AS.

Loading...