Optimisme The Fed Bikin Rupiah Anjlok 72 Poin di Akhir Februari

harus berakhir drop pada perdagangan Rabu (28/2) ini setelah pidato Jerome Powell memunculkan spekulasi bahwa akan menaikkan acuan sebanyak empat kali di tahun 2018. Menurut Index pukul 15.59 WIB, Garuda ditutup melemah 72 poin atau 0,53% ke level Rp13.751 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah sudah berakhir terdepresiasi 19 poin atau 0,14% di posisi Rp13.679 per dolar AS pada tutup dagang Selasa (26/2) kemarin. Tren negatif mata uang NKRI berlanjut pagi tadi dengan dibuka melemah 43 poin atau 0,31% ke level Rp13.722 per dolar AS. Sepanjang hari ini, spot praktis tidak kuasa keluar dari teritori merah mulai awal hingga akhir dagang.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi mematok kurs tengah berada di posisi Rp13.707 per dolar AS, 57 poin atau 0,41% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.650 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berdaya versus , dengan pelemahan terdalam sebesar 1,04% menghampiri won Korea Selatan.

Dari pasar global, indeks dolar AS bergerak lebih tinggi terhadap sekeranjang mata uang utama pada hari Rabu, setelah pandangan optimistis Gubernur The Fed, Jerome Powell, mengenai ekonomi memperkuat spekulasi kenaikan suku bunga pada tahun ini. Mata uang Paman Sam tersebut terpantau menguat 0,035 poin atau 0,04% ke level 90,390 pada pukul 11.38 WIB, mendekati posisi tertinggi dalam tiga minggu.

Seperti dilaporkan Reuters, ketika melakukan pidato di depan anggota parlemen AS, Powell mengatakan bahwa Federal Reserve akan terus menaikkan suku bunga acuan secara bertahap, karena ekonomi yang terus tumbuh, yang mendorong untuk menaikkan taruhan menjadi empat kali pada tahun ini. Sebelumnya, proyeksi terakhir ekonom mengenai kenaikan Fed Fund Rate adalah sebanyak tiga kali sepanjang 2018.

“Perekonomian AS tumbuh dengan kecepatan yang solid selama paruh kedua tahun 2017 dan memasuki tahun ini,” ujar Powell di hadapan Komite Jasa Keuangan DPR AS. “Pengurangan kebijakan moneter akomodatif secara bertahap akan menopang pasar tenaga kerja yang kuat sambil mendorong kembalinya inflasi menjadi 2%.”

Menurut risalah pertemuan The Fed baru-baru ini, para pembuat kebijakan telah menjadi percaya tentang prospek pertumbuhan dan inflasi. The Fed diperkirakan akan menyetujui kenaikan tingkat suku bunga pertama kalinya di tahun 2018 pada pertemuan kebijakan berikutnya di bulan Maret mendatang, dan Powell akan mengadakan konferensi pers pertamanya.

“Secara pribadi, saya bertanya-tanya apakah komentar Powell sangat bullish terhadap ekonomi, tetapi itu tampaknya merupakan interpretasi pasar,” kata analis pasar global senior Sumitomo Mitsui Banking Corporation di Singapura, Satoshi Okagawa. “Begitu kita melewati pertengahan Maret, dolar AS mungkin akan secara bertahap menunjukkan keperkasaan terhadap yen Jepang.”

Loading...