Optimalkan Robot, Perusahaan Jepang Pulangkan Produksi ke Negeri Asal

Pabrikan Jepang - new.inilah.comPabrikan Jepang - new.inilah.com

TOKYO – , yang telah menghabiskan puluhan tahun untuk memperluas pangsa pasar di Asia dan sekitarnya, dikabarkan perlahan membawa produksi mereka pulang ke rumah, dengan bantuan robot dan kecerdasan buatan. Hal ini dilakukan untuk menyiasati kenaikan di seluruh Asia, sekaligus menekan produksi domestik.

Dikabarkan oleh Nikkei, Casio mulai melakukan otomatisasi operasi di sebuah di utara Jepang untuk memotong biaya produksi dan menghasilkan lebih banyak jam murah di pasar dalam negeri. Langkah Casio ini mengikuti Honda Motors, yang akan menggeser produksi sepeda motor model Super Cub mereka dari China ke di Kumamoto.

Casio, yang berbasis di Tokyo, telah menjual jam tangan dengan sekitar 20 AS selama beberapa dekade. Dengan produk yang disebut ‘Casio murah’ oleh penggemar di seluruh dunia, mereka menyumbang lebih dari 10 persen dari hasil tahunannya, atau sekitar 44 juta unit. Output dari jam tangan ini dibagi rata dengan dua di China, satu di Thailand, dan satu di Yamagata.

Sementara itu, repatriasi Honda terhadap Super Cub hanya berlangsung lima tahun setelah mereka mentransfer produksi ke China dengan tujuan untuk memotong biaya. Keputusan tersebut bukan hanya cerminan kenaikan upah di Negeri Panda, namun kebutuhan untuk menciptakan model mutakhir yang sesuai dengan peraturan pasar Asia yang semakin ketat.

Di sisi lain, peningkatan popularitas kosmetik di Jepang telah mendorong Shiseido untuk membangun sebuah pabrik di Tochigi, sebelah utara Tokyo, sekaligus pabrik domestik baru pertama mereka dalam kurun waktu 36 tahun. Di saat yang bersamaan, Canon juga sedang membangun pabrik otomatis untuk kamera di Miyazaki, sebelah barat daya Jepang, yang menandai pabrik domestik pertama mereka dalam sembilan tahun.

Tetapi, tidak semua industri bisa melakukan re-shore produksi dengan mudah. Produk pakaian jadi misalnya, yang dibuat hampir seluruhnya dengan tangan, sehingga membuat otomatisasi menjadi lebih sulit. Sebagian besar produsen pakaian jadi Jepang memang telah memindahkan produksi mereka dari China, tetapi ke beberapa negara di kawasan Asia Tenggara, dan bukan ke rumah.

Sebelumnya, banyak perusahaan Negeri Matahari Terbit yang memindahkan produksi mereka ke luar negeri untuk melawan penguatan yang dialami yen. Yen sempat menguat ke level 250 terhadap dolar AS pada pertengahan dekade 1980-an, namun turun ke level di bawah 80 pada tahun 2011 dan 2012. Sekarang, mata uang tersebut kembali ke posisi sekitar 113 terhadap greenback, yang tentunya memberikan sedikit kelegaan di kalangan eksportir Jepang.

Loading...