Operasi Rahasia & Pasukan Bentukan CIA Picu Ekstremisme di Afghanistan

Pasukan Bentukan CIA - www.hipwee.comPasukan Bentukan CIA - www.hipwee.com

AFGHANISTAN – Pembicaraan yang sedang berlangsung antara AS dan Taliban Afghanistan disebut-sebut sebagai langkah signifikan untuk mengakhiri perang 17 tahun di negara Timur Tengah itu. Namun, jika negosiasi berhasil, mungkin akan berakhir dengan hanya menyelesaikan salah satu dari banyak perang yang sedang terjadi di negara ini, yang akhirnya dapat membahayakan perdamaian di Afghanistan.

“Baru-baru ini, peringatan 30 tahun penarikan Uni Soviet telah berlalu. Selama pendudukan yang hampir sepuluh tahun, sekitar dua juta Afghanistan tewas,” ujar Emran Feroz, jurnalis independen, penulis dan pendiri Drone Memorial, dilansir TRT World. “Setelah penarikan, ternyata perang saudara masih berlangsung dan menewaskan ratusan ribu sipil Afghanistan di awal 1990-an.”

Menurut Feroz, skenario serupa bisa terjadi pada hari ini. Terlepas dari kenyataan bahwa rencana penarikan belum dilakukan, banyak pertanyaan muncul. Apakah semua pasukan AS dan NATO akan meninggalkan negara itu? Akankah mereka meninggalkan kontingen kecil? Apakah operasi udara akan berhenti? Bagaimana AS akan terus mendukung Tentara Afghanistan? Dan, apa yang akan terjadi dengan milisi Afghanistan yang didukung AS yang bukan bagian dari pasukan itu sendiri?

United Nations Assistance Mission in Afghanistan (UNAMA) baru-baru ini menyatakan bahwa pasukan AS dan sekutu Afghanistan mereka membunuh lebih banyak warga sipil selama kuartal pertama 2019 daripada gabungan semua kelompok pemberontak. Menurut , setidaknya 1.773 warga sipil telah terbunuh atau terluka antara 1 Januari hingga 31 Maret. Setidaknya, 305 di antara mereka dibunuh oleh militer AS, Tentara Nasional Afghanistan, dan milisi yang didukung CIA.

Pada saat yang sama, 227 warga sipil terbunuh oleh kelompok pemberontak seperti Taliban, yang tetap menjadi yang paling signifikan dan paling berpengaruh di lapangan. Korban sipil yang disebabkan oleh pasukan pro-pemerintah naik 39 persen dibandingkan tahun 2018. Setidaknya, 140 warga sipil tewas oleh serangan udara yang dilakukan oleh dan drone konvensional.

Sejak UNAMA mulai menghitung pada tahun 2009, ini adalah pertama kalinya bahwa AS dan sekutu Afghanistan mereka telah membunuh lebih banyak warga sipil. Namun, pengamat konflik seharusnya tidak terkejut. Selama beberapa tahun terakhir, telah terjadi peningkatan substansial dalam operasi udara dan serangan malam yang brutal di Afghanistan. Pada 2018, militer AS menjatuhkan lebih banyak bom di Afghanistan daripada sebelumnya.

“Seperti yang berulang kali dinyatakan oleh AS, mereka tidak ingin melihat Afghanistan menjadi surga bagi kelompok-kelompok . Tetapi, pada saat yang sama, pemeriksaan lebih dekat terhadap kebijakan mereka sendiri di lapangan tidak terjadi,” sambung Feroz. “Sebagian besar, militan dan ekstremis yang muncul entah dari mana, adalah hasil dari suatu , dan seringkali, mereka adalah reaksi terhadap bentuk-bentuk kekerasan lainnya.”

Bagian dari kekerasan ini adalah milisi Afghanistan yang didukung AS, yang telah beroperasi di berbagai bagian negara selama bertahun-tahun. Milisi-milisi ini telah membangun reputasi yang terkenal buruk. “Saya perhatikan ini pertama kali ketika saya memasuki Provinsi Khost di tenggara Afghanistan, dekat Garis Durand,” tambah Feroz.

“Saat itu, saya naik taksi dari Kabul dan melakukan perjalanan empat jam melalui pegunungan Afghanistan timur dan Provinsi Logar dan Paktia,” lanjut Feroz. “Ketika kami, pengemudi taksi, tiga warga Khost, dan saya telah tiba di tujuan, pertama-tama kami harus menghadapi Khost Protection Force (KPF), milisi yang didukung CIA, yang mengendalikan sebagian besar provinsi.”

KPF didirikan pada hari-hari awal perang Afghanistan. Terdiri dari warga Pashtun lokal dari wilayah tersebut, semua pejuang dilatih dan dipersenjatai oleh CIA, yang juga memiliki pangkalan di provinsi tersebut, Camp Chapman. Milisi itu sendiri, yang telah menjadi terkenal di kalangan penduduk setempat, terutama melakukan serangan malam bersama dengan pasukan AS, melacak target untuk operasi drone, dan sering muncul di tempat kejadian setelah serangan udara.

Berkat CIA dan KPF, sebagian besar Khost telah menjadi negara polisi. Namun, sementara banyak penduduk setempat menghargai kenyataan bahwa serangan bunuh diri dan operasi militan lainnya hampir tidak terjadi, mereka juga tahu bahwa ketenangan aneh di kota mereka itu tidak ada hubungannya dengan perdamaian atau keamanan yang nyata.

“Milisi (dari KPF) memiliki gaji tinggi. Mereka mendapat ratusan dolar AS setiap bulan dari AS,” ujar Feroz menirukan pernyataan Sangar, salah satu penjaga sempat. “Tetapi sekali, banyak dari mereka adalah pencuri dan penjahat. Jika AS menjatuhkan mereka, mereka akan menjarah kota kami dalam satu malam.”

Kekuatan serupa KPF juga beroperasi di Provinsi Nangarhar timur. Unit 02 yang disebut adalah cabang pasukan khusus yang bekerja di bawah badan intelijen Afghanistan, NDS, dan juga didukung oleh CIA. Selama operasi, kelompok ini sering didukung oleh serangan udara yang dilakukan oleh pasukan AS dan Afghanistan. Mirip dengan operasi KPF, Unit 02 secara teratur membunuh warga sipil selama operasinya, seperti yang sering terjadi selama beberapa bulan terakhir.

“Operasi, baik KPF dan unit 02, mungkin akan terus memicu ekstremisme, militansi, dan kebencian terhadap pemerintah Afghanistan dan sekutu mereka, AS,” imbuh Feroz. “Diragukan bahwa operasi mereka di Afghanistan akan berhenti, bahkan setelah kemungkinan perjanjian damai dengan Taliban. CIA mendukung milisi dan yang lain yang serupa dengan mereka, dan seperti yang diajarkan sejarah, dinas intelijen sering melakukan apa yang mereka inginkan.”

Loading...