OPEC Pangkas Produksi Minyak, Ekonomi Asia Tenggara Was-Was

SINGAPURA – Rencana OPEC untuk mengurangi produksi minyak demi menopang harga komoditas tersebut diyakini bisa menimbulkan dampak yang tidak baik bagi Tenggara. Namun, dampak tersebut tergantung pada seberapa banyak harga minyak itu akan nantinya.

-negara pengekspor minyak yang tergabung dalam OPEC telah sepakat memangkas produksi minyak yang akan berlangsung mulai Januari 2017. Dengan adanya kebijakan ini, OPEC berharap harga minyak dunia kembali naik, setelah selama setahun terakhir terpuruk di bawah level 50 per barel.

Meski demikian, rencana OPEC ini menimbulkan kekhawatiran bagi perekonomian Asia Tenggara yang sebagian besar bergantung pada komoditas sumber daya alam. “Pemotongan produksi ini tidak menguntungkan bagi Indonesia,” ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Ignasius Jonan, dalam sebuah pernyataannya.

Indonesia sendiri merupakan negara produsen minyak terbesar di Asia Tenggara, yang mampu memompa 820.000 barel minyak per hari. Namun, pertumbuhan ekonomi menyebabkan energi meningkat pesat sehingga membuat negara ini terpaksa mengimpor minyak pada tahun 2003 lalu.

Indonesia menggunakan pendapatan dari ekspor minyak untuk melakukan subsidi harga bensin. Tetapi, ini kemudian dihapuskan pada tahun 2015 karena defisit fiskal yang membengkak. Sementara itu, indeks harga konsumen naik 3,58 persen pada bulan November karena harga minyak mentah lebih murah sejak akhir 2014 yang membantu menstabilkan harga. Jika keputusan OPEC membuat harga minyak kembali naik, maka siklus positif ini kemungkinan berakhir.

Cerita yang sama berlaku di seluruh Asia Tenggara, saat ekonomi berubah drastis di tahun 2000-an. Ketika mengandalkan ekspor sumber daya alam dan produk pertanian, permintaan domestik dari 600 juta orang di kawasan tersebut sekarang menjadi pendorong untuk pertumbuhan sektor ekonomi. Filipina menikmati pertumbuhan PDB 7,1 persen, tetapi harga minyak yang lebih tinggi bisa meningkatkan inflasi di negara tersebut.

Berbeda dengan dua negara tersebut, Malaysia malah berharap mendapatkan keuntungan dari produksi minyak. Pemerintah setempat berharap keputusan tersebut bisa meringankan headwinds menghadapi ekonomi dengan populasi 30 juta jiwa. “Semua masalah bisa diselesaikan,” kata Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak.

Singapura juga berharap hal serupa dari keputusan OPEC. Singapura memang bukan produsen minyak, tetapi banyak perusahaan negara ini yang terlibat dalam pertambangan minyak. Perusahaan riset Inggris, Wood Mackenzie, memperkirakan bahwa antara tahun 2015 hingga 2020, investasi global di sektor hulu seperti minyak mentah dan gas akan jatuh 740.000.000.000 AS.

Namun, dampak tersebut tergantung pada seberapa banyak harga minyak akan naik nantinya. “Jika harga minyak tetap di rentang 50 hingga 60 dolar AS per barel, saya tidak berpikir itu akan memberikan perbedaan untuk perekonomian Asia Tenggara,” ujar Centennial Asia Advisers, Manu Bhaskaran.

Loading...