Obat Herbal untuk COVID-19, Berikan Rasa Aman ‘Palsu’?

Ilustrasi: pandemi virus coronaIlustrasi: pandemi virus corona

JAKARTA – Ketika kasus -19 di Indonesia terus mengalami peningkatan, banyak orang yang akhirnya beralih ke pengobatan tradisional, termasuk obat , untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh mereka. Bahkan, Kementerian Pertanian sempat mempromosikan kalung aromaterapi yang diberi label sebagai ‘anti-virus ’. Namun, para pakar memperingatkan bahwa pengobatan yang tidak terbukti secara ilmiah dapat menciptakan rasa aman yang palsu.

Dilansir dari Deutsche Welle, minuman herbal di Indonesia, yang disebut jamu, mendadak populer selama pandemi, karena harganya terjangkau dan mudah dibuat di rumah. Sido Muncul, produsen utama jamu Indonesia, melaporkan lonjakan penjualan pada paruh pertama tahun 2020, terutama didorong oleh minuman vitamin dan jahe.

Sayangnya, seiring dengan lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia, prevalensi obat palsu dan perbaikan cepat menimbulkan masalah kesehatan masyarakat. Pada hari Kamis (3/9) kemarin, Indonesia mencatat rekor tertinggi, 3.622 kasus infeksi COVID-19 baru dan 134 kematian dalam 24 jam, menurut Kementerian Kesehatan. Jumlah total kasus sekarang lebih dari 184.000, dengan 7.750 kematian dan 132.055 sembuh.

Pada bulan lalu, sebuah wawancara Anji, yang punya 3,6 juta subscriber, dengan Hadi Pranoto, seorang pria yang mengaku sebagai profesor mikrobiologi, yang menggembar-gemborkan obat COVID-19 yang ia buat dari , beredar di YouTube. Pranoto mengatakan bahwa jamu ini dapat menyembuhkan COVID-19 dalam tiga hari, dan akan membantu pemerintah melawan pandemi. YouTube lantas menghapus wawancara, dan polisi sedang menyelidiki Anji dan Hadi karena menyebarkan informasi yang salah.

Sebelumnya, pada Juli, Kementerian Pertanian mempromosikan kalung aromaterapi dengan daun kayu putih yang diberi label sebagai ‘anti-’. Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, mengklaim bahwa memakai kalung selama 15 menit dapat membunuh 42% virus, sedangkan 30 menit akan membunuh 80% virus. Karena menuai keraguan luas dari komunitas ilmiah Indonesia, kementerian kemudian menarik kembali klaim mereka, mengatakan bahwa hanya dimaksudkan untuk mencegah penyakit, namun tidak merevisi klaim pada label .

Ilustrasi: jamu dari bahan herbal (sumber: flokq.com)

Ilustrasi: jamu dari bahan herbal (sumber: flokq.com)

Para ahli memperingatkan bahwa klaim semacam itu dapat menyesatkan publik menjadi merasa terlindungi, yang dapat membuat orang mengabaikan protokol kesehatan, seperti menjaga jarak sosial dan mengenakan masker. Yohanes Wibowo, seorang ilmuwan Indonesia dan kandidat PhD di Departemen Farmakologi Eksperimental di Universitas Heidelberg di Jerman, mengatakan bahwa klaim aromaterapi kementerian tidak memiliki dukungan ilmiah.

“Saya tidak menemukan publikasi yang menunjukkan kementerian telah melakukan uji vitro terhadap kultur virus, apalagi uji klinis,” ujar Yohanes. “Tidak ada obat herbal atau non herbal yang terbukti 100% efektif melawan virus corona. Ada daftar obat yang sedang dalam proses uji klinis, namun tidak ada satupun yang menunjukkan hasil yang bisa dikategorikan sebagai obat antivirus corona.”

Sementara, Profesor Amin Soebandrio dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman di Jakarta, mengatakan bahwa obat herbal tidak dimaksudkan untuk menyembuhkan. Menurutnya, jika ada yang mengklaim bisa menyembuhkan COVID-19, itu tidak benar. “Saya mengimbau masyarakat agar lebih kritis terhadap klaim obat herbal. Sebaiknya kita melihat produk herbal sebagai suplemen, untuk meningkatkan kesehatan dan daya tahan tubuh,” katanya.

Selama berabad-abad, pengobatan herbal memang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di Indonesia. Ilmuwan Indonesia telah meneliti pengobatan COVID-19 menggunakan bahan alami, seperti yang terdapat pada minuman jamu. Salah satu proyek penelitian sedang dilakukan oleh tim dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) untuk Pengembangan Obat Tradisional dan Herbal.

Menurut situs LIPI, tim sedang mempelajari bagaimana dua obat herbal memodulasi sistem kekebalan tubuh. Kandungannya antara lain jamur Cordyceps militaris, serta kombinasi jahe dan herbal. Uji klinis diselesaikan pada bulan Agustus, dan datanya sedang diperiksa keakuratannya, sebelum diteruskan untuk disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). LIPI mengatakan, mereka tidak akan membuat klaim keampuhan sampai BPOM mengeluarkan temuannya.

Loading...