NPI Defisit, Rupiah Tetap Menguat Tipis di Awal Pekan

Rupiah - www.sindonews.comRupiah - www.sindonews.com

Meski pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal pertama 2018 dilaporkan defisit, namun ternyata tetap mampu bergerak positif pada awal perdagangan Senin (14/5) ini. Seperti dilaporkan Index, mata uang Garuda membuka dengan menguat tipis 3 poin atau 0,02% ke level Rp13.957 per dolar . Sebelumnya, spot sudah ditutup melonjak 124 poin atau 0,88% di posisi Rp13.960 per dolar pada akhir pekan (11/5) kemarin.

Pada Jumat kemarin, dalam keterangan tertulis melaporkan bahwa neraca pembayaran Indonesia pada kuartal 2018 mencatat defisit sebesar 3,9 miliar dolar AS, seiring dengan menurunnya surplus transaksi modal dan finansial. Dengan perkembangan NPI tersebut, posisi cadangan pada akhir Maret 2018 tercatat sebesar 126 miliar dolar AS.

Meski demikian, NPI diperkirakan akan tetap baik sehingga dapat terus menopang ketahanan sektor eksternal. Bank Indonesia sendiri terus mencermati perkembangan global yang dapat memengaruhi prospek NPI, antara lain peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global, kecenderungan penerapan inward-oriented trade policy di sejumlah , serta kenaikan harga minyak dunia.

“Pelaku pasar domestik saat ini tengah menantikan keputusan Bank Indonesia terhadap acuan, karena acuan dalam negeri memang berpotensi memberi tenaga bagi mata uang Garuda,” ujar analis Monex Investindo, Faisyal, seperti dikutip Kontan. “Namun, pekan ini, rupiah juga masih dibebani sejumlah sentimen yang dapat menahan laju penguatan.”

Sementara itu, ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Ahmad Mikail, menilai bahwa peluang Bank Indonesia untuk mengerek suku bunga acuan cukup besar. Ia pun optimistis rupiah bisa melanjutkan penguatan jika wacana tersebut terealisasi. “Sepekan ke depan, rupiah akan bergerak di kisaran Rp13.950 hingga Rp14.000 per dolar AS,” tutur Mikail.

Sebelumnya, pada akhir pekan lalu, mata uang Garuda mampu menutup perdagangan di zona hijau. Laporan data AS yang tidak sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar, menjadi salah satu faktor yang memberikan katalis positif bagi rupiah. Data AS sendiri tercatat hanya sebesar 0,2%, masih di bawah prediksi ekonom yang sebesar 0,3%.

Loading...