Normalisasi Trump Effect, Rupiah Menguat Tipis di Awal Dagang

Situasi yang mulai kembali normal usai efek Trump Shock membuat laju indeks dolar AS kembali mengalami koreksi. Hal tersebut menjadi peluang besar bagi Garuda untuk kembali sepanjang sesi dagang Selasa (29/11) ini, terlebih mentah juga mulai beranjak .

Seperti diwartakan Bloomberg Index, mengawali perdagangan hari ini dengan menguat 7 poin atau 0,05% ke Rp13.525 per dolar AS. Kemudian, pada pukul 08.41 WIB, spot kembali naik tipis 2 poin atau 0,01% ke posisi Rp13.530 per dolar AS. Sementara, laju indeks dolar AS dibuka melemah 0,200 poin atau 0,20% ke level Rp101,30.

“Rupiah berpeluang kembali menguat pada perdagangan pagi ini,” kata Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia Rangga Cipta. “Mata uang Garuda berpeluang menguat di saat indeks dolar AS kembali bergerak di zona merah.”

The greenback kembali terkoreksi seiring dengan kondisi pasar yang mulai normal usai efek Trump Shock. Selain itu, harga minyak mentah dunia yang mulai naik usai OPEC menyatakan sepakat untuk memangkas jumlah produksi meski finalisasi masih menunggu kesepakatan dapat menjadi sentimen positif bagi laju mata uang dalam negeri.

“Imbal hasil SUN yang mulai turun mengikuti imbal hasil global menandakan mulai meredanya aliran keluar dana asing,” sambung Rangga. “Namun, referendum Italia (4 Desember) bisa menjadi sumber ketidakpastian berikutnya yang mana hasil NO bisa berujung pada kembalinya penguatan dolar AS.”

Sebelumnya, pada perdagangan Senin (28/11) kemarin, rupiah harus ditutup melemah tipis meski sempat dibuka di zona hijau. Kekhawatiran , seperti November 2016 yang berpeluang naik serta rencana demonstrasi Jumat mendatang, yang dibarengi permintaan dolar AS musiman membuat rupiah harus ditutup di zona merah.

Loading...