Dibuka Drop, Rupiah Langsung Rebound Usai Data NFP AS Jeblok

Rupiah dan dolar - bisnis.com

JAKARTA – Rupiah harus terpeleset ketika membuka Senin (11/5) pagi dengan melemah 15 poin atau 0,10% ke level Rp14.935 per AS ketika nonfarm payrolls AS diumumkan jeblok. Namun, menurut paparan Bloomberg Index, Garuda langsung dengan menguat tipis 5 poin atau 0,03% ke level Rp14.915 per pada pukul 09.12 WIB.

Pada akhir pekan waktu setempat, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa data nonfarm payrolls (NFP) tersebut pada bulan April 2020 mencatat ada pemangkasan 20,5 juta pekerjaan, sedangkan tingkat pengangguran melonjak menjadi 14,7%. Kedua angka itu dengan mudah memecahkan rekor setelah Perang Dunia II, sekaligus mencerminkan kerusakan mendalam akibat wabah .

Sebelumnya, ekonom yang disurvei Dow Jones memperkirakan NFP AS turun menjadi 21,5 juta dan tingkat pengangguran naik menjadi 16%. Tingkat pengangguran pada bulan April ini melampaui rekor pasca-perang sebesar 10,8%, walau masih di bawah angka 24,9% yang dicatat selama Great Depression. Sementara, pada puncak krisis keuangan, tingkat pengangguran naik 10% pada Oktober 2009.

“Angka-angka suram melukiskan gambaran yang cukup suram, tetapi April mungkin karena kehilangan pekerjaan ke depan dengan negara mulai dibuka kembali,” kata kepala ekonom keuangan di MUFG Union Bank, Chris Rupkey, dilansir CNBC. “Jika ada garis perak dalam laporan pekerjaan suram hari ini, itu adalah dalam kesadaran bahwa ekonomi tidak mungkin menjadi lebih buruk daripada sekarang.”

Pergerakan rupiah hari ini sendiri diprediksi akan menguat. Selain dipengaruhi data ketenagakerjaan AS yang buruk serta hubungan antara AS dan yang membaik, relaksasi lockdown yang membuat harapan ekonomi global akan kembali pulih juga menjadi sentimen positif. “Data cadangan devisa juga naik 6,9 miliar dolar AS secara bulanan menjadi 127,9 miliar dolar AS pada April 2020,” ujar analis Global Kapital Investama, Alwi Assegaf, dikutip Kontan.

Sementara, ekonom Bank Mandiri, Reny Eka Puteri, menambahkan, spread yield US Treasury dengan Surat Utang Negara (SUN) cenderung semakin lebar. Bank sentral global melanjutkan kebijakan akomodatif dengan tidak akan menaikkan suku bunga acuan. Ia pun memperkirakan spot akan bergerak di kisaran Rp14.820 hingga Rp15.000 per dolar AS.

Loading...