Nonfarm Payroll AS Solid, Rupiah Dibuka Melemah 21 Poin

Rupiah melemah pada pembukaan perdagangan awal pekan (5/11) ini - www.islamtimes.org

JAKARTA – Laporan nonfarm AS yang solid membuat langsung melemah pada pembukaan awal pekan (5/11) ini. Seperti dilaporkan Bloomberg Index, mata uang Garuda dibuka turun 21 poin atau 0,14% ke level Rp14.976 per . Sebelumnya, spot ditutup menguat 173 poin atau 1,14% di posisi Rp14.955 per pada akhir pekan (2/11) kemarin.

Pada Jumat waktu setempat, Departemen AS melaporkan bahwa negara tersebut menambahkan 250.000 pekerjaan baru sepanjang bulan Oktober 2018 kemarin. Angka ini jauh melampaui prediksi ekonom yang memperkirakan bakal ada 190.000 pekerjaan baru. Sementara itu, tingkat pengangguran tetap stabil di angka 3,7%, sedangkan rata-rata penghasilan per jam naik 3,1% tahunan.

“Penambahan lapangan pekerjaan terjadi pada sektor perawatan kesehatan, manufaktur, konstruksi, transportasi, dan pergudangan,” tulis laporan Departemen Tenaga Kerja AS. “ uang yang diperoleh pekerja rata-rata naik 0,18% pada bulan lalu, menjadi 27,30 AS per jam, juga melampaui ekspektasi.”

Laporan pekerjaan yang solid ini mengindikasikan ekonomi AS tetap kuat, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran bahwa kenaikan upah dan meningkatnya akan mendorong The Fed untuk menaikkan pada laju yang lebih cepat. The Fed sendiri diperkirakan akan kembali menaikkan mereka di bulan Desember mendatang.

“Pada akhir pekan kemarin, sentimen utama yang membuat rupiah menguat karena didorong oleh sentimen global yang relatif lebih ‘bersahabat’ sehingga tidak heran jika dolar AS turun tajam,” tutur ekonom Pefindo, Fikri C. Permana, dilansir Kontan. “Saya memproyeksikan rupiah masih akan memiliki volatilitas besar, terutama dari kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed.”

Sementara itu, analis Binaartha Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta, mengatakan bahwa sepanjang pekan ini, mata uang Garuda bergerak cenderung konsolidasi. Untuk makroekonomi domestik yang perlu dicermati adalah , indeks keyakinan konsumen, indeks keyakinan bisnis, penjualan ritel, cadangan devisa, penjualan motor, dan current account.

“Sementara, untuk data makroekonomi eksternal yang sangat penting dan perlu dicermati adalah hasil perilisan data nonfarm payroll AS, pemilu legislatif AS, inflasi China, neraca perdagangan China, dan data PDB Inggris,” jelas Nafan, dikutip Tempo. “Sepanjang pekan ini, rupiah akan bergerak di kisaran Rp14.760 hingga Rp15.100 per dolar AS.”

Loading...