Nonfarm Payroll AS Naik, Rupiah Melemah di Awal Pekan

Rupiah - www.viva.co.idRupiah - www.viva.co.id

Data nonfarm payroll terbaru yang dilaporkan naik tajam membuat rupiah harus kembali pada pembukaan Senin (10/9) ini. Seperti dipaparkan Index, mata uang Garuda mengawali transaksi dengan turun 15 poin atau 0,10% ke level Rp14.835 per . Sebelumnya, spot sempat ditutup menguat 73 poin atau 0,49% di posisi Rp14.820 per pada akhir pekan (7/9) kemarin.

Pada Jumat waktu setempat, menurut data Departemen Tenaga Kerja AS, nonfarm payroll menunjukkan bahwa negara tersebut menambahkan 210.000 pekerjaan baru di bulan Agustus 2018, lebih tinggi daripada ekspektasi yang sebesar 191.000. Penghasilan per jam rata-rata juga naik 0,4% secara bulanan atau 2,9% secara tahunan, meski tingkat pengangguran masih berada di angka 3,9%.

Imbal hasil Treasury AS dan greenback langsung melonjak setelah data nonfarm payroll ini diumumkan, sedangkan saham AS dibuka lebih rendah karena investor melihat data tersebut sebagai sentimen pendorong untuk tetap mengencangkan kebijakan moneter mereka. Sebelumnya, perolehan upah yang menurun telah menjadi celah utama pada Presiden , dan saat ini sedang didorong oleh stimulus pemotongan pajak.

“Jika kita terus melihat pertumbuhan upah bergerak lebih tinggi, itu akan menempatkan The Fed untuk menaikkan suku bunga keempat, dan tidak ada kekhawatiran mengenai tarif,” tutur kepala strategi di Prudential Finance, Quincy Krosby, dilansir CNBC. “Saya tidak berpikir ini akan menjadi awal penurunan di , tetapi faktanya adalah ada laporan lain yang mengarah ke hal ini yang menunjukkan bahwa upah telah bergerak lebih tinggi.”

Sementara itu, dari dalam negeri, sejumlah analis memprediksi rupiah masih akan bergerak melemah sepanjang pekan ini, dipicu rencana kenaikan suku bunga Federal Reserve sebanyak 25 basis poin. Di samping itu, kekhawatiran mengenai perang dagang masih belum mereda seiring dengan rencana Trump untuk menaikkan tarif senilai 267 miliar dolar AS barang asal .

Loading...