Nilai Rupiah Melemah, Berapa Harga 1 Kg Kacang Kedelai?

Harga, 1, per, kg, kilogram, kacang, kedelai, tahu, tempe, pasar, Kebayoran, Jakarta, impor, lokal, lemah, pelemahan, rupiah, dampak, domestik, kisaran, AS, Amerika Serikat, gantang, produksi, ton, tahun, kebutuhan, penjual, bahan, baku, produsen, susu, susu kedelai, informasi, kenaikan,Butiran kacang kedelai (sumber: ksk-global.com)

Lemahnya nilai rupiah diakui turut mempengaruhi yang kian melejit. Hal tersebut kemudian berdampak pada tahu dan tempe di tradisional yang secara ukuran ikut mengecil.

Yati, salah seorang pedagang tahu dan tempe di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan mengatakan, meski secara harga jual masih sama namun ia menyiasatinya dengan membuat ukuran tahu menjadi sedikit lebih kecil demi mengakali harga baku kacang kedelai yang meninggi. “Harga tahu Bandung di sini masih sama, Rp6 ribu per 10 potong kecil. Tempe juga masih Rp5 ribu selonjor. Tapi ukurannya dibuat lebih kecil gara-gara harga kacang kedelai yang impor itu sekarang mahal,” katanya kepada Liputan6.com.

Kendati demikian, Yati mengaku tak tahu betul harga kacang kedelai impor di pihak produsen. “Itu sih yang tahu para pembuatnya, saya cuma jualan aja di sini,” tambahnya.

Senada dengan Yati, Fauzi (32) yang merupakan pedagang tempe di Pasar Kebayoran Lama menyatakan, dia memang mengetahui informasi perihal kenaikan harga impor kacang kedelai karena AS kian perkasa. Namun demikian, itu saat ini belum berimbas pada tempe dagangannya. “Harga kacang kedelai impor dan rupiah yang terus tinggi sekarang belum berpengaruh ke harga tempe, belum naik. Ini saya jual sekitar 1/4-1/3 kg harganya masih Rp5.000. Makin siang malah makin ke bawah (harganya), bisa saya turunin sampai Rp 3.000,” tutur dia.

Volume kedelai AS ke tersebut meningkat 5,15% dibandingkan periode sama 2018 yang sebesar 2,22 juta ton. Peningkatan ekspor kedelai AS ke melonjak tajam pada pekan pertama Agustus 2018, yakni sebesar 92,31% menjadi 405.200 dari periode sama tahun 2017 sebesar 210.700 ton.

Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifuddin mengakui adanya peningkatan impor kedelai di bulan ini. Peningkatan impor dilakukan karena produksi kedelai dalam negeri masih minim. “Produksi kedelai lokal statis saja, sementara kebutuhan kedelai tiap tahun meningkat. Maka kita masih butuh impor untuk penuhi permintaan,” ujar Aip kepada Kontan.co.id.

Menurut Aip, produksi kedelai dalam negeri paling tinggi sebesar 500.000 ton per tahun. Produksi sebesar itu semuanya diserap pelaku usaha yang memproduksi tahu dan tempe, sebab industri ini setiap tahun membutuhkan sekitar 2 juta ton kedelai. Produsen tahu dan tempe merupakan penyerap terbesar kedelai hingga sekitar 88%. Sementara sisanya diserap sektor usaha lain seperti Cimory, produsen susu kedelai, yang menyerap 100.000 ton kedelai per tahun.

Ia mengakui, di tengah pelemahan rupiah, saat ini harga kedelai impor di pasar domestik masih mahal di kisaran Rp11.000–Rp 12.000 per kg. Sementara harga kedelai lokal hanya sekitar Rp 5.500–Rp 8.500 per kg. Di pasar internasional, harga kedelai AS sempat turun di kisaran US$ 0,834 per gantang dari sebelumnya US$ 0,903 per gantang (1 gantang=1,5 kg).

Loading...