NFP AS Positif, Rupiah Melemah di Awal Pekan

Rupiah melemahRupiah melemah pada perdagangan Senin (8/3) pagi - www.bareksa.com

JAKARTA – Rupiah masih belum mampu keluar dari tren negatif pada Senin (8/3) pagi ketika data nonfarm payrolls dilaporkan melonjak. Menurut laporan Bloomberg Index pukul 09.10 WIB, mata uang Garuda terpantau 36,5 poin atau 0,26% ke level Rp14.336,5 per dolar AS. Sebelumnya, spot sudah ditutup terdepresiasi 33,5 poin atau 0,23% di posisi Rp14.300 per dolar AS pada Jumat (5/3) kemarin.

Pada Jumat waktu setempat, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa data nonfarm payrolls bulan Februari 2021 naik 379.000 dan tingkat turun menjadi 6,2%. Data itu lebih tinggi dari ekspektasi 210.000 baru dan tingkat pengangguran tetap di angka 6,3% pada Januari. Perbaikan data ekonomi cenderung mendorong yield US Treasury bergerak naik.

“Tren kenaikan imbal hasil AS masih akan menekan pergerakan rupiah selama pekan ini,” terang Direktur CORE Indonesia, Mohammad Faisal, seperti dikutip dari Bisnis. “Meski demikian, pelemahan tidak akan terlalu signifikan karena didukung sentimen dalam negeri berupa jumlah cadangan devisa Indonesia yang cukup besar.”

Pada Jumat kemarin, Bank Indonesia melaporkan bahwa cadangan devisa per akhir Februari 2021 sebesar 138,8 miliar dolar AS, sekaligus rekor tertinggi sepanjang sejarah Indonesia merdeka. Angka ini meningkat dari posisi Januari 2021 yang sebesar 138 miliar dolar AS. Posisi cadangan devisa tersebut diklaim setara dengan pembiayaan 10,5 bulan impor atau 10 bulan impor dan pembayaran luar negeri .

“Tingginya cadangan devisa Indonesia akan mampu membantu mengimbangi sentimen pemberat pergerakan rupiah. Hal tersebut akan berdampak pada kecilnya ruang pelemahan rupiah pada pekan ini,” sambung Faisal. “Bank Indonesia juga tidak akan membiarkan nilai rupiah melemah secara signifikan. Mereka pasti telah memiliki langkah-langkah intervensi.”

Hampir senada, ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai bahwa data ketenagakerjaan AS yang positif memunculkan kekhawatiran yield US Treasury kembali naik. Jika yield obligasi AS terus naik, rupiah bisa kembali tertekan. “Pelaku bisa lebih tenang dengan Bank Indonesia yang tetap lakukan beragam intervensi untuk menjaga rupiah stabil,” katanya, seperti dilansir dari Kontan.

Loading...