NFP AS Naik Tajam, Rupiah Anjlok di Akhir Pekan

Rupiah - www.republika.co.idRupiah - www.republika.co.id

JAKARTA – harus terbenam di area merah pada Jumat (3/7) sore ketika nonfarm payrolls AS bulan Juni 2020 dilaporkan mengalami peningkatan tajam walau masih dalam krisis infeksi coronavirus. Menurut paparan Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda melemah tajam 145 poin atau 1,01% ke level Rp14.523 per dolar AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan pagi tadi menetapkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.566 per dolar AS, terdepresiasi 50 poin atau 0,34% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.516 per dolar AS. Di saat bersamaan, mata uang bergerak mixed terhadap greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,20% dialami dolar Taiwan dan pelemahan terdalam sebesar 1,15% menghampiri rupiah.

“Saat ini rupiah kembali dikelilingi sentimen negatif, salah satunya arus dana asing yang keluar dari dalam negeri,” papar Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, dikutip dari Bisnis. “ masih khawatir terhadap kasus COVID-19 yang belum menunjukkan sinyal mereda meski sebagian cukup optimistis terhadap perkembangan vaksin.”

Dari pasar global, indeks dolar AS terkurung dalam kisaran sempit pada hari Jumat, ketika kebangkitan kasus coronavirus di Amerika Serikat membuat beberapa investor enggan mengambil secara risiko berlebihan. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,085 poin atau 0,09% ke level 97,232 pada pukul 11.12 WIB.

Seperti dilansir Reuters, gelombang kedua infeksi coronavirus telah mendorong penghentian atau mengayuh mundur rencana untuk membuka kembali kegiatan di beberapa bagian AS setelah berbulan-bulan dikunci ketat. Para pejabat juga mengambil langkah-langkah untuk membatasi kegiatan selama liburan akhir pekan Independence Day yang diperpanjang mulai Jumat ini.

Meski demikian, berdasarkan data terbaru dari Departemen Tenaga Kerja AS pada Kamis (2/7), nonfarm payrolls AS dilaporkan meningkat sebesar 4,8 juta pekerjaan pada bulan Juni. Ini merupakan angka tertinggi sejak mulai membuat catatan pada tahun 1939. Ekonom yang disurvei Reuters sebelumnya memperkirakan ada peningkatan sebesar 3 juta pekerjaan.

Selain COVID-19, hubungan antara Amerika Serikat dan China juga menjadi perhatian. Senat AS dengan suara bulat menyetujui undang-undang untuk menghukum bank yang melakukan bisnis dengan pejabat China, yang menerapkan undang-undang nasional baru Beijing untuk Hong Kong, meningkatkan kemungkinan gesekan lebih lanjut antara dua negara ekonomi terbesar di dunia.

Loading...