Senin Pagi, Rupiah Tetap Menguat Meski NFP AS Naik

Rupiah menguat pada perdagangan Senin (7/9) pagi - www.beritasatu.com

JAKARTA – Rupiah mampu bertahan di zona hijau pada Senin (7/9) pagi, meski data nonfarm payrolls dilaporkan lebih baik dari prediksi. Menurut paparan Bloomberg Index pukul 09.00 WIB, mata uang Garuda mengawali dengan 45 poin atau 0,31% ke level Rp14.705 per AS. Sebelumnya, spot ditutup 27,5 poin atau 0,19% di posisi Rp14.750 per dolar AS pada akhir pekan (4/9) kemarin.

Departemen Tenaga Kerja AS pada Jumat waktu setempat melaporkan bahwa data nonfarm payrolls tersebut pada Agustus 2020 meningkat sebesar 1,37 juta, sedangkan tingkat pengangguran turun menjadi 8,4% karena Negeri Paman Sam mulai menunjukkan penguatan. Ini lebih baik dari survei yang dihimpun Dow Jones, yang memprediksi nonfarm payrolls tumbuh 1,32 juta.

Dikutip dari CNBC Indonesia, perekrutan dari pemerintah AS membantu meningkatkan total pertumbuhan pekerjaan hingga 344.000 pekerja. Sebagian besar perekrutan itu berasal dari pekerja Sensus, yang meningkat 328.000. Meskipun ada kekhawatiran tentang krisis pendapatan di antara tingkat kota, lapangan kerja pemerintah daerah meningkat sebesar 95.000.

“Kami masih bergerak ke arah yang benar dan laju pemulihan pekerjaan tampaknya telah meningkat, tetapi tampaknya masih perlu waktu, dan kemungkinan vaksin, sebelum kami kembali mendekati posisi kami di awal tahun ini,” kata kepala pasar global di Citizens Bankm Tony Bedikian. “Kami terus optimistis bahwa ekonomi telah berubah arah dan bahwa kami akan terus melihat kemajuan yang stabil.”

Dengan laporan tersebut, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini diperkirakan akan cenderung tertekan. Apalagi, jatuhnya indeks saham AS dan Eropa kemarin juga bisa memberikan sentimen negatif ke aset berisiko di pasar Asia di awal pekan ini. Alhasil, sentimen tersebut bisa menjadi penekan rupiah.

“Sementara, untuk tren sepekan ke depan pasar akan menantikan rilis data-data indikator AS yang akan dirilis pada Kamis (10/9) dan Jumat (11/9),” tutur Kepala Riset Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, dilansir dari Kontan. “Data tersebut bisa memberikan petunjuk arah dolar AS selanjutnya. Pasar akan mengaitkan data ini ke prospek kebijakan moneter AS selanjutnya.”

Loading...