NFP AS Mengecewakan, Rupiah Menguat di Awal Pekan

Rupiah menguat pada perdagangan Senin pagi - investor.id

JAKARTA – mampu memanfaatkan situasi ketika data nonfarm payrolls AS terbaru ternyata lebih rendah daripada prediksi ekonom. Menurut catatan Bloomberg Index pada pukul 09.00 WIB, mata uang Garuda langsung dibuka 25 poin atau 0,17% ke level Rp14.270 per AS. Sebelumnya, spot harus ditutup terdepresiasi 10 poin atau 0,07% di posisi Rp14.295 per AS pada Jumat (4/6) sore.

Pada akhir pekan kemarin waktu setempat, Departemen AS melaporkan bahwa nonfarm payrolls tersebut sepanjang Mei 2021 mencapai angka 559.000. Meskipun meningkat dibandingkan April 2021 yang sebesar 278.000 (setelah revisi), angka tersebut lebih rendah dari konsensus Dow Jones yang memperkirakan sebesar 671.000.

“Para ekonom sedikit terlalu optimistis tentang kecepatan yang kita tuju di sini. Butuh beberapa saat bagi orang untuk mendapatkan pekerjaan,” kata, kepala pendapatan tetap di Charles Schwab, Kathy Jones, dikutip dari CNBC. “Untuk saham, tidak ada alasan bagi The Fed untuk bergerak terlalu cepat, dan karena itu juga merupakan kabar baik bagi obligasi.”

Rasio pekerjaan-terhadap-populasi, yang menurut beberapa pejabat The Fed adalah ukuran penting kemajuan tenaga kerja, beringsut lebih tinggi menjadi 58%, tetapi tetap jauh dari tingkat pra-pandemi sebesar 61,1%. Tingkat partisipasi angkatan kerja, metrik lain yang diawasi ketat, turun tipis menjadi 61,6% karena ukuran kelompok turun 53.000 dengan lebih dari 100 juta pekerja AS tersisa di sela-sela.

“Data nonfarm employment change yang memburuk berpotensi memberi kesempatan pada rupiah untuk menguat di awal pekan,” ujar ekonom Sucor Sekuritas, Ahmad Mikail Zaini, seperti dikutip dari Kontan. “Data tenaga kerja AS yang belum kompak menguat tersebut juga membuat yield menurun. Alhasil, rupiah memiliki kesempatan untuk menguat.”

Hampir senada, analis Valbury Futures, Lukman Leong, menuturkan bahwa rupiah berpotensi menguat karena sikap The Fed dalam merencanakan kebijakan moneter masih tarik ulur antara hawkish dan dovish. Di satu sisi, rupiah juga bisa tersokong langkah pemerintah menerbitkan sukuk global yang hasilnya diminati investor . “Adanya proyeksi pertumbuhan di kuartal II 2021 juga berpotensi mengangkat rupiah,” kata Lukman.

Loading...