NFP AS Kurang Menggembirakan, Rupiah Menguat

Ilustrasi: pecahan uang RupiahIlustrasi: pecahan uang Rupiah

JAKARTA – bangkit ke zona hijau pada Senin (8/2) pagi ketika nonfarm payrolls AS terbaru ternyata kurang menggembirakan. Menurut Index pukul 09.15 WIB, Garuda menguat 27,5 poin atau 0,20% ke level Rp14.002,5 per AS. Sebelumnya, spot harus ditutup terdepresiasi 15 poin atau 0,11% di posisi Rp14.030 per AS pada Jumat (5/2) kemarin.

“Pergerakan rupiah yang terdepresiasi pekan lalu akibat mata uang Garuda mendapat tekanan dari dolar AS yang tengah menguat,” papar Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, dikutip dari Bisnis. “Dolar AS sedang bergairah seiring prospek pemulihan AS, apalagi data-data AS yang dirilis belakangan seperti data tenaga kerja dan data survei aktivitas sektor manufaktur dan jasa, lebih baik dari ekspektasi dan masih berekspansi.”

Sementara itu, Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, mengatakan bahwa tekanan rupiah kemungkinan akan berlanjut dalam rentang sempit. Pasalnya, imbal hasil US Treasury jangka panjang mengalami kenaikan seiring dengan gencarnya kebijakan paket stimulus senilai 1,9 triliun dolar AS. “Pada hari ini, rupiah mungkin bergulir pada kisaran Rp14.010 hingga Rp14.050 per dolar AS,” ujar Ibrahim.

Namun, rupiah mendapatkan angin segar ketika data terbaru menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS sepanjang Januari 2021 lebih kecil dari yang diharapkan. Departemen Tenaga Kerja AS mengatakan bahwa nonfarm payrolls hanya meningkat 49.000 sepanjang bulan lalu. Sementara itu, tingkat pengangguran dilaporkan turun menjadi 6,3%. Survei yang dilakukan Dow Jones sebelumnya memprediksi pertumbuhan 50.000 dan tingkat pengangguran tidak berubah di angka 6,7%.

“Meskipun memperoleh pekerjaan pada bulan Januari setelah mengalami kerugian di bulan Desember, ini bukanlah laporan yang telah berubah arah,” kata ekonom perusahaan di Navy Federal Credit Union, Robert Frick, dilansir dari CNBC. “Kami khususnya tidak boleh mengambil penghiburan bahwa tingkat pengangguran turun drastis mengingat itu terutama karena lebih banyak orang AS yang keluar dari angkatan kerja.”

Loading...