Neraca Perdagangan Surplus, Rupiah Tetap Lemas di Senin Sore

Rupiah - bisnis.comRupiah - bisnis.com

Meski neraca perdagangan domestik bulan Juni 2018 dilaporkan , namun gagal bergerak ke zona hijau karena sentimen domestik bruto (PDB) membebani pasar Asia. Menurut laporan Bloomberg Index pukul 15.52 WIB, mata uang Garuda berakhir melemah 16 poin atau 0,11% menuju level Rp14.394 per .

Sebelumnya, rupiah ditutup menguat 12 poin atau 0,08% di posisi Rp14.378 per dolar AS pada akhir pekan (13/7) kemarin. Namun, pagi tadi, mata uang Garuda berbalik turun 15 poin atau 0,10% ke level Rp14.393 per dolar AS ketika membuka perdagangan. Sepanjang hari ini, spot praktis tidak mampu bangkit dari zona merah.

Siang tadi, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia sepanjang bulan Juni 2018 mengalami surplus sebesar 1,74 miliar dolar AS, atau sesuai prediksi Bank Indonesia yang mengatakan surplus di atas 1 miliar dolar AS. Nilai ekspor pada bulan keenam mencapai 13 miliar dolar AS atau turun 19,8% dibandingkan bulan sebelumnya, sedangkan impor mengalami penurunan curam sebesar 36,27% dari bulan Mei menjadi 11,26 miliar dolar AS.

“Kinerja perdagangan pada Juni 2018 mengalami penurunan secara bulanan karena bertepatan dengan periode Lebaran,” jelas Kepala BPS, Suhariyanto. “Secara kumulatif, masih terjadi defisit sebesar 1,02 miliar dolar AS dari Januari hingga Juni 2018. Karena, hanya terjadi surplus pada bulan Mei dan Juni, sedangkan sisanya mengalami defisit.”

Meski demikian, sentimen neraca perdagangan domestik belum bisa mengatrol nilai tukar rupiah. Pasalnya, di saat yang bersamaan, indeks dolar AS bergerak lebih tinggi di pasar Asia setelah produk domestik bruto (PDB) China kuartal II 2018 dilaporkan lebih lambat dari kuartal sebelumnya. Mata uang Paman Sam menguat tipis 0,032 poin atau 0,03% ke level 94,709 pada pukul 11.26 WIB.

Menurut Biro Statistik Nasional China (NBS), PDB Negeri Tirai Bambu pada kuartal II 2018 hanya tumbuh 6,7%, lebih lambat dari kuartal sebelumnya yang mencapai 6,8%. ini membebani pasar di seluruh Asia, sekaligus menambah kekhawatiran mengenai dampak perang dagang AS-China terhadap pertumbuhan Negeri Panda maupun secara .

Loading...