Neraca Perdagangan Surplus, Rupiah terdongkrak Naik

neraca perdaganganRupiah naik ke posisi tertinggi selama hampir 2 minggu ini setelah laju inflasi melambat. Hasil perhitungan yang mencatat surplus juga menjadi salah satu faktor pendukungnya. Inflasi turun menjadi 6,96% selama Januari 2015, lebih rendah dari bulan 2014 yaitu sebesar 8,36%, serta lebih rendah dari prediksi pada survei di 7.46%. Dalam sebuah wawancara, Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa Ia akan mengambil keputusan untuk mengatasi sengketa antara Polri dan KPK.

Hari ini (3/2), Rupiah posisinya menguat sebesar 41 basis poin menjadi Rp 12.644 per di sesi pembukaan perdagangan antar Bank . Bergeser dari posisi sebelumnya di Rp 12.685 per Dolarnya. ” Laju pada bulan Januari dan surplus perdagangan pada bulan Desember 2014 lalu mendukung posisi perdagangan Rupiah pagi ini,” kata Rully Nova, analis Himpunan Bank Saudara di Jakarta.

Badan Pusat Statistik () mengungkapkan data bahwa Indonesia mencatat adanya deflasi sebesar 0,24% sepanjang Januari 2015 oleh karena penurunan di bulan Januari lalu. Indonesia juga mencatat surplus perdagangan-balance senilai 190 juta USD pada bulan Desember tahun lalu.

“Pada dasarnya, perekonomian Indonesia masih positif meskipun para pemain pasar harus tetap waspada pada rencana Federal Reserve Amerika untuk menaikkan suku bunganya dikarenakan perbaikan ekonomi Amerika Serikat,” masih tutur Rully.

Loading...