Neraca Perdagangan Surplus, Rupiah Jaya di Akhir Pekan

Kurs Rupiah - www.viva.co.idKurs Rupiah - www.viva.co.id

JAKARTA – Neraca Indonesia selama bulan Oktober 2019 yang dilaporkan mengalami surplus menjadi sentimen positif bagi untuk mempertahankan posisi di area hijau hingga Jumat (15/11) sore. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 15.46 WIB, mata uang Garuda menguat 11 poin atau 0,08% ke level Rp14.077 per dolar AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi juga menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.069 per dolar AS, menguat 29 poin atau 0,21% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.098 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang juga kompak mengungguli , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,40% menghampiri won Korea Selatan.

Hari ini, Badan Pusat Statistik (BPS) menurunkan laporan neraca perdagangan Oktober 2019 yang mengalami surplus sebesar 161,3 juta dolar AS, dengan nilai ekspor sebesar 14,93 miliar dolar AS dan nilai impor 14,77 miliar dolar AS. Dari BPS, surplus neraca perdagangan ini disebabkan surplus sektor nonmigas sebesar 990,5 juta dolar AS meski migas mengalami defisit 829,2 juta dolar AS.

“Berbalik dengan konsensus di , bulan ini neraca perdagangan surplus karena terjadi penurunan impor di sektor barang konsumsi, barang baku, dan ,” jelas Kepala BPS, Suhariyanto. “Namun, Indonesia perlu hati-hati, karena penurunan di sektor barang baku dan bisa memengaruhi industri.”

Dari pasar global, indeks dolar AS sedikit melemah pada hari Jumat, ketika mata uang yang berisiko tinggi terpapar tensi dagang menemukan beberapa dukungan karena harapan baru negosiasi AS-China, yang masih dicermati dengan hati-hati oleh . Mata uang Paman Sam terpantau terdepresiasi tipis 0,012 poin atau 0,01% ke level 98,151 pada pukul 12.55 WIB.

Dilansir Reuters, penasihat ekonomi Gedung Putih, Larry Kudlow, Kamis (14/11) kemarin mengatakan bahwa kedua pihak sudah hampir mencapai kesepakatan. Meski dia tidak memberikan rincian terbaru, tetapi sentimen itu cukup untuk membalikkan sedikit kenaikan yen Jepang semalam dan menguatkan mata uang berisiko, seperti dolar Australia dan dolar Selandia Baru.

Kemarin, Kementerian Perdagangan China juga menuturkan bahwa kedua negara sedang mengadakan diskusi ‘mendalam’, setelah sebelumnya Presiden AS, Donald Trump, sempat berujar bahwa kesepakatan telah ditutup. Namun, Financial Times, mengutip orang yang dekat dengan perundingan, melaporkan perjanjian mungkin tidak tercapai pada waktunya untuk menghindari putaran baru AS yang mulai berlaku pada 15 Desember.

Loading...