Neraca Dagang Kembali Surplus, Rupiah Berakhir Menguat

Rupiah mengaut pada transaksi Senin (15/2) sore - www.beritasatu.com

JAKARTA – Rupiah mampu mengamankan posisinya di area hijau pada transaksi Senin (15/2) sore, ketika dalam negeri bulan Januari 2021 dilaporkan kembali mengalami atau sembilan bulan beruntun. Menurut paparan Index pada pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda ditutup 61 poin atau 0,44% ke level Rp13.911,5 per AS.

Sementara itu, data yang dirilis Bank Indonesia pukul 10.00 WIB menempatkan kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp13.946 per , menguat 0,46% dari transaksi sebelumnya. Di saat yang hampir bersamaan, mayoritas mata uang Asia mampu mengungguli greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,37% dialami peso Filipina.

Hari ini, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Januari 2020 yang kembali mengalami surplus sebesar 1,96 miliar dolar AS, sekaligus surplus dalam sembilan bulan beruntun. Surplus tersebut disebabkan nilai ekspor yang sebesar 15,30 miliar dolar AS masih lebih tinggi daripada impor yang tercatat sebesar 13,34 miliar dolar AS.

“Kinerja ekspor Januari 2021 secara year-on-year jauh lebih baik dibandingkan Januari 2020. Misalnya untuk ekspor migas naik 8,30%, pertanian naik 13,91%, pengolahan naik 11,72%, serta pertambangan dan lainnya naik 16,92%,” kata Kepala BPS, Suhariyanto. “Kinerja ekspor yang lebih baik secara year-on-year ini menimbulkan harapan di bulan-bulan berikutnya akan terus tumbuh, dan pemulihan akan berjalan sesuai harapan.”

Dari , indeks dolar AS mengawali minggu ini mendekati posisi terendah dua pekan pada hari Senin karena para pedagang mempertanyakan apakah pemulihan dari pandemi di akan secepat yang diharapkan. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,174 poin atau 0,19% ke level 90,306 pada pukul 12.28 WIB.

“Rebound dolar AS cenderung didukung kinerja ekonomi AS yang relatif lebih baik, atau ekspektasinya,” kata ahli strategi mata uang senior di Barclays Capital di Tokyo, Shinichiro Kadota, seperti dikutip dari Reuters. “Sekarang pasar sedang mencari bukti nyata bahwa ekonomi AS berkinerja baik. Data ekonomi perlu ditingkatkan.”

Telah terjadi tarik-menarik atas arah dolar AS pada tahun ini, dengan beberapa pelaku pasar mengharapkannya untuk menguat karena ekonomi AS mengungguli rekan-rekannya, termasuk Eropa. Namun, yang lain memandang pemulihan AS sebagai pendorong utama dalam narasi refleksi global yang seharusnya mengangkat aset berisiko dengan mengorbankan greenback.

Loading...