Neraca Perdagangan Kembali Surplus, Rupiah Berakhir Menguat

Rupiah - harianjogja.bisnis.comRupiah - harianjogja.bisnis.com

JAKARTA – mampu bertengger di area hijau pada transaksi Kamis (15/10) sore setelah neraca Indonesia bulan September 2020 dilaporkan kembali mengalami saat ekonomi tertekan pandemi COVID-19. Menurut paparan Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda ditutup menguat 27,5 poin atau 0,19% ke level Rp14.690 per AS.

Sementara itu, data yang dirilis pukul 10.00 WIB tadi menempatkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.760 per dolar AS, menguat 20 poin atau 0,14% dari transaksi sebelumnya di level Rp14.780 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang bergerak , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,12% dialami won Korea Selatan dan pelemahan terdalam sebesar 0,17% menghampiri yuan China.

Siang tadi, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa neraca perdagangan pada bulan September 2020 mengalami surplus sebesar 2,44 miliar dolar AS, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 2,32 miliar dolar AS. Dengan demikian, selama lima bulan berturut-turut, neraca perdagangan dalam negeri mengalami surplus.

September 2020 mencapai 14,01 miliar dolar AS atau naik sebesar 6,97% dibandingkan Agustus 2020, disebabkan kenaikan migas dan nonmigas yang naik masing-masing 17,43%  dan 6,47%,” papar Kepala BPS, Suhariyanto. “Sementara, nilai impor mencapai 11,57 miliar dolar AS selama September 2020, naik 7,71% dari bulan sebelumnya.”

Dari pasar global, indeks dolar AS dan yen Jepang sama-sama menarik dukungan pada hari Kamis, karena meningkatnya kasus virus corona dan sedikit kemajuan menuju kesepakatan stimulus AS cukup meresahkan investor, membuat mereka beralih ke aset aman. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,114 poin atau 0,12% ke level 93,496 pada pukul 14.55 WIB.

Dilansir dari Reuters, Prancis telah memberlakukan jam malam karena musim gugur membawa peningkatan tajam dalam kasus infeksi virus corona secara harian, memicu kekhawatiran tentang gelombang baru kebijakan lockdown di seluruh dunia. Sementara itu, harapan untuk suntikan dari pengeluaran stimulus AS perlahan memudar.

Menteri Keuangan AS, Steve Mnuchin, Rabu (14/10) kemarin menuturkan bahwa menyelesaikan sesuatu sebelum pemilihan (presiden) dan melaksanakannya akan sulit, sambil menambahkan bahwa dirinya dan Ketua DPR AS, Nancy Pelosi, masih ‘berjauhan’ dalam prioritas pengeluaran mereka. Dalam jangka pendek, statement ini mendukung greenback dan meningkatkan permintaan untuk aset yang lebih aman.

Loading...