Neraca Perdagangan Surplus, Rupiah Tetap Berakhir Melemah

Rupiah - economy.okezone.comRupiah - economy.okezone.com

JAKARTA – tidak mampu mengangkat posisi ke teritori hijau pada Selasa (15/12) sore meski neraca perdagangan Indonesia bulan November 2020 kemarin dilaporkan kembali mengalami . Menurut catatan Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda ditutup melemah 25 poin atau 0,18% ke level Rp14.120 per AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan Bank Indonesia pukul 10.00 WIB menetapkan acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.171 per dolar AS, terkoreksi 13 poin atau 0,09% dari transaksi sebelumnya di level Rp14.158 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia juga tidak berdaya melawan greenback, menyisakan rupee India, peso Filipina, dan baht Thailand di area hijau.

Siang tadi, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada bulan November 2020 mengalami surplus sebesar 2,62 miliar dolar AS, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang surplus 3,61 miliar dolar AS. Surplus ini diperoleh dari posisi yang mencapai 15,28 miliar dolar AS, lebih tinggi dari impor November sebesar 12,66 miliar dolar AS.

Dari global, indeks dolar AS masih berkutat di dekat posisi terendah 2,5 tahun terhadap mata uang utama pada hari Selasa karena permintaan untuk aset ini menurun, di tengah kemajuan menuju persetujuan stimulus fiskal AS dan optimisme untuk kesepakatan Brexit. Mata uang Paman Sam menguat 0,063 poin atau 0,07% ke level 90,774 pada pukul 15.00 WIB.

Seperti diwartakan Reuters, greenback mendekati level terendah sejak pertengahan 2018 versus dolar Aussie dan dolar Kiwi yang lebih berisiko pada perdagangan awal di Asia, saat anggota parlemen AS bersiap-siap untuk mengeluarkan 1,4 triliun dolar AS. Rencana bantuan bipartisan COVID-19 senilai 908 miliar dolar AS akan dibagi menjadi dua paket, meningkatkan harapan bahwa setidaknya sebagian besar dari rencana yang sudah memiliki dukungan bipartisan akan disetujui.

Di seberang Samudera Atlantik, negosiator Brexit dari , Michel Barnier, mengatakan bahwa menyegel pakta perdagangan dengan Inggris masih memungkinkan. Hal tersebut tentunya menimbulkan harapan bahwa kesepakatan dapat dicapai hanya dalam beberapa hari untuk mencegah keluarnya Inggris dari blok perdagangan pada akhir bulan.

Peluncuran COVID-19 di AS dan Inggris juga mendukung sentimen risiko. Namun, optimisme diimbangi oleh lonjakan infeksi dan tingkat kematian. London akan melakukan yang lebih ketat di tengah penemuan varian baru virus tersebut. “Dengan peluncuran , kami memperkirakan frekuensi dan intensitas penyebaran virus akan berkurang, memungkinkan greenback untuk melanjutkan tren turunnya,” ujar analis mata uang di Commonwealth Bank of Australia, Joe Capurso.

Loading...