Neraca Perdagangan Surplus, Rupiah Ditutup Menguat 111 Poin ke Rp13.379/USD

bisnis.liputan6.com

bereaksi positif usai Badan Pusat Statistik () merilis Indonesia pada Januari yang 50 juta AS. Menurut laporan Bloomberg Index pada pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda menutup perdagangan hari ini (15/2) dengan menguat 0,82 persen atau 111 poin ke level Rp13.379 per AS.

Pada pembukaan pagi hari, mata uang Garuda langsung menguat 0,13 persen atau 17 poin ke level Rp13.472 per dolar. Penguatan ini sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang Asia yang terapresiasi terhadap dolar AS pagi tadi.

Penguatan rupiah juga dirilis Yahoo Finance. Pada pukul 16.01 WIB, mata uang Garuda terapresiasi 1,67 persen atau 90 poin ke level Rp13.385 per dolar AS.

Senin pagi, BPS melaporkan aktivitas perdagangan Indonesia sepanjang Januari 2016 menghasilkan surplus 50 juta dolar AS. Kinerja perdagangan membaik setelah sebelumnya membukukan defisit 236 juta dolar AS pada Desember 2015.

Menurut Ekonom Mandiri Sekuritas, Leo Rinaldy, defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) diprediksi melebar menjadi 2,4 persen dari produk domestik bruto (PDB). Namun, surplus neraca keuangan Indonesia akan lebih dari cukup untuk membiayai CAD tahun ini.

“Dengan CAD yang masih terukur, kami memprediksi Bank Indonesia akan memangkas suku bunga acuan () sebesar 25 basis poin menjadi tujuh persen pada rapat dewan gubernur 18 Februari ini,” ujarnya.  “Kami meyakini, data domestik akan memperpanjang sentimen positif seperti inflasi, pertumbuhan , dan penguatan rupiah.”

Sementara, Ekonom Bank Central Asia, David Sumual, menyebutkan bahwa sentimen dari domestik cukup bagus, sedangkan defisit neraca berjalan menyusut. “Peluang rupiah memang besar, terutama jika data impor dan masih terjaga,” jelas David.

Loading...