Neraca Perdagangan Surplus, Rupiah Bergerak Stagnan

Rupiah - bangka.tribunnews.comRupiah - bangka.tribunnews.com

JAKARTA – bergerak stagnan pada Selasa (16/3) pagi meski neraca Indonesia kembali mengalami surplus. Menurut Index pada pukul 09.11 WIB, Garuda tetap berada di level Rp14.402,5 per AS. Sebelumnya, spot berakhir terdepresiasi 17,5 poin atau 0,12% di posisi Rp14.402,5 per AS pada hari Senin (15/3).

Kemarin, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan Februari 2021 kembali mengalami surplus sebesar 2 miliar dolar AS. Surplus neraca perdagangan pada bulan lalu disebabkan nilai yang lebih besar daripada nilai , yakni 15,27 miliar dolar AS berbanding 13,26 miliar dolar AS.

Ekonom Samuel Sekuritas, Ahmad Mikail, mengatakan bahwa pelemahan rupiah pada perdagangan kemarin tidak terlepas dari rilis data ekonomi Indonesia yang dianggap kurang meyakinkan. Walaupun neraca perdagangan masih mencatatkan surplus sebesar 2 miliar dolar AS, tetapi impor mengalami kenaikan tajam hingga 14%.

“Hal ini menimbulkan ekspektasi investor bahwa impor masih akan kembali mengalami kenaikan dan kemungkinan dapat menekan surplus neraca perdagangan,” ujar Ahmad, dikutip dari Kontan. “Meski demikian, rupiah pada hari Selasa ini berpotensi mengalami penguatan karena ada data penjualan ritel AS yang diperkirakan mengalami penurunan.”

Sementara itu, FX Senior Dealer Bank Sinarmas, Deddy, menuturkan bahwa nilai tukar rupiah pada transaksi hari ini tidak akan banyak berubah setelah kemari cenderung tertekan greenback bersama dengan mayoritas mata uang lainnya. Menurutnya, rupiah akan bergerak sideway di kisaran Rp14.350 hingga Rp14.450 per dolar AS.

Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, Nanang Wahyudin, dilansir Tempo, menambahkan bahwa pergerakan rupiah kemarin tidak lepas dari faktor penguatan dolar AS imbas dari kenaikan yield AS karena ekspektasi kenaikan inflasi dan juga faktor dari stimulus yang juga menjadi bagian dari upaya pemulihan ekonomi AS. Meski demikian, pada pekan ini, greenback akan cenderung mengalami koreksi seiring serangkaian data ekonomi AS seperti data penjualan ritel yang diperkirakan tidak begitu baik.

“Kenaikan yield US Treasury yang belakangan menjadi sentimen utama, efeknya akan mulai pudar,” papar Nanang. “Stimulus AS senilai 1,9 triliun dolar AS yang sudah siap dibagikan, akan berpotensi mendorong posisi investor ke aset berisiko. Dengan demikian, potensi pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir akan mulai berkurang.”

Loading...