Neraca Perdagangan Menebal, Rupiah Justru Berakhir Anjlok 36 Poin

Meski neraca pada September 2016 mencatatkan surplus tertinggi dalam 13 bulan terakhir, namun hal tersebut tidak berdampak signifikan terhadap pergerakan rupiah. Menurut Index pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda harus menutup sesi dagang (17/10) dengan melemah 36 poin atau 0,28% ke posisi Rp13.069 per .

Pelemahan rupiah sudah terjadi sejak awal dagang dengan terdepresiasi 26 poin atau 0,20% ke level Rp13.059 per AS. Jeda siang, spot kembali terpuruk 29 poin atau 0,22% ke posisi Rp13.062 per AS. Jelang tutup dagang atau pukul 15.37 WIB, mata uang Garuda masih berkutat di zona merah dengan turun 41 poin atau 0,31% ke level Rp13.074 per AS.

Senin siang tadi, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan September 2016 mengalami surplus sebesar 1,22 miliar dolar AS. Surplus September tersebut jauh lebih besar dibandingkan bulan Agustus yang sebesar 293,6 juta dolar AS. Dengan demikian, surplus Januari-September 2016 tercatat sebesar 5,67 miliar dolar AS. “Ini merupakan surplus tertinggi selama 13 bulan terakhir,” kata Kepala BPS, Suhariyanto, dalam konferensi pers Senin siang.

Meski demikian, nilai ekspor pada September 2016 hanya mencapai 12,51 miliar dolar AS atau turun 1,84% dibandingkan bulan sebelumnya dan turun 0,59% secara year on year (YoY). Sementara, nilai impor tercatat 11,3 miliar dolar AS atau terpangkas 8,78% daripada bulan sebelumnya, sekaligus lebih rendah 2,26% dibandingkan posisi setahun yang lalu.

Sayangnya, meski neraca perdagangan menebal, namun dolar AS yang masih dalam tren penguatan serta ancaman kenaikan imbal hasil global membuat rupiah tidak mampu keluar dari tekanan. Dolar AS lanjut menguat usai Gubernur The Fed, Janet , mengisyaratkan bahwa perekonomian AS berpotensi terus membaik.

Yellen mengindikasikan keinginan pengetatan kebijakan secara bertahap meski tingkat inflasi mencapai atau melampaui target Bank Sentral AS tersebut. “Data ekonomi AS seperti inflasi untuk September dan konstruksi perumahan, penjualan rumah, dan produksi industri akan sangat diantisipasi demi mendapat petunjuk tentang kebijakan tingkat suku bunga The Fed,” ujar Wakil Presiden Riset Manajemen Aset Oversea-Chinese Banking Corp, Vasu Menon.

Loading...