Neraca Perdagangan Kembali Defisit, Rupiah Anjlok 73 Poin di Senin Sore

Rupiah - www.liputan6.comRupiah - www.liputan6.com

Indonesia di bulan Mei 2018 yang kembali mengalami defisit membuat tidak mampu mengungguli indeks pada perdagangan awal pekan (25/6) ini. Menurut laporan Bloomberg Index pukul 15.59 WIB, NKRI menyelesaikan transaksi dengan pelemahan sebesar 73 poin atau 0,52% ke level Rp14.159 per .

Sebelumnya, rupiah sempat ditutup menguat 16 poin atau 0,11% di posisi Rp14.086 per dolar AS pada akhir pekan (22/6) kemarin. Namun, mata uang Garuda berbalik melemah 18 poin atau 0,13% ke level Rp14.104 per dolar AS ketika membuka perdagangan pagi tadi. Sepanjang transaksi hari ini, spot praktis harus puas berada di area merah, mulai awal hingga tutup .

Siang tadi, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada bulan Mei 2018 mengalami defisit sebesar 1,52 miliar dolar AS, turun tipis dibandingkan bulan sebelumnya yang defisit 1,63 miliar dolar AS. Meski di bulan kelima tumbuh cukup bagus, namun pertumbuhan Indonesia naik lebih tinggi.

“Pertumbuhan ekspor Indonesia sebenarnya bagus, tetapi pertumbuhan impor jauh lebih tinggi, terutama impor migas karena pengaruh kenaikan harga minyak dunia yang tinggi,” ujar Kepala BPS, Suhariyanto, kepada pers di Jakarta. “Kami berharap defisit neraca perdagangan membaik, karena pertumbuhan ekonomi pada triwulan kedua sangat bergantung pada neraca perdagangan Mei dan Juni.”

Dari pasar global, indeks dolar AS hanya menguat tipis pada hari Senin dan masih tertekan yen Jepang, di tengah kekhawatiran perang dagang global yang ikut menekan imbal hasil obligasi AS. Mata uang Paman Sam terpantau hanya naik 0,009 poin atau 0,01% ke level 94,529 pada pukul 11.25 WIB dan berada di posisi 109,52 yen Jepang.

Seperti dilansir Reuters, agaknya menjauhi aset risiko, hingga menekan bursa saham Asia dan mengakibatkan imbal hasil Treasury AS menurun. Kondisi tersebut terjadi setelah Wall Street Journal melaporkan Departemen Keuangan AS sedang menyusun aturan terkait investasi China di perusahaan AS, terutama di sektor teknologi industri.

“Dolar AS sudah terlihat goyah terhadap yen. Setiap terobosan positif dalam pembicaraan perdagangan akan mendorong bargain hunting terhadap greenback, tetapi itu tidak terjadi,” ujar direktur forex di Societe Generale di Tokyo, Kyosuke Suzuki. “Bahkan, jika data ekonomi AS minggu ini cukup kuat, greenback mungkin tidak menarik banyak dukungan selama kekhawatiran perdagangan tidak mereda.”

Loading...