Neraca Perdagangan Defisit, Rupiah Berakhir Merah

Rupiah - www.indopos.co.idRupiah - www.indopos.co.id

JAKARTA – Indonesia bulan September 2019 yang dilaporkan mencatatkan defisit ternyata menjadi sentimen negatif bagi rupiah sehingga harus terjun ke area merah pada Selasa (15/10) sore. Menurut catatan Index pada pukul 15.53 WIB, mata uang Garuda melemah 26 poin atau 0,19% ke level Rp14.166 per AS.

Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini mengumumkan neraca perdagangan Indonesia bulan September 2019 yang harus mengalami defisit sebesar 160 juta dolar AS. Posisi ini berbanding terbalik dari bulan sebelumnya yang mencatatkan 80 juta dolar AS. Defisit terjadi karena nilai hanya mencapai 14,1 miliar dolar AS, sedangkan sebesar 14,26 miliar dolar AS.

“Penurunan ekspor ini terjadi karena penurunan ekspor migas dan nonmigas. Ekspor minyak mentah turun 33%,” papar Kepala BPS, Suhariyanto. “Sementara, untuk ekspor pengolahan, menurun 3,51% menjadi 10,85 miliar dolar AS, sedangkan ekspor pertambangan lainnya naik 13,03% menjadi 2,06 miliar dolar AS.”

Di sisi lain, nilai impor Indonesia sepanjang September 2019 mencapai 14,26 miliar dolar AS atau naik 0,63% dibanding Agustus 2019, namun jika dibandingkan September 2018 turun 2,41%. Impor nonmigas September 2019 mencapai 12,67 miliar dolar AS atau naik 1,02% dibanding Agustus 2019, demikian pula jika dibandingkan September 2018, naik 2,82%.

Sementara itu, siang tadi Bank Indonesia menetapkan berada di posisi Rp14.140 per dolar AS, terdepresiasi 14 poin atau 0,10% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.126 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mata uang Asia bergerak variatif, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,11% dialami won Korea Selatan dan pelemahan terdalam sebesar 0,11% menghampiri peso Filipina.

Dari , mata uang Asia berfluktuasi dalam kisaran sempit, setelah sempat reli ketika pembicaraan AS-China dikabarkan mengalami kemajuan. Investor mencari tanda-tanda lebih lanjut dari kesepakatan perdagangan yang konkret untuk mempertahankan optimisme mereka. China disebut akan melakukan pembicaraan lebih banyak untuk menuntaskan rincian dari perjanjian perdagangan ‘fase 1’ yang digembar-gemborkan oleh Presiden AS, Donald Trump.

Loading...