Neraca Perdagangan Defisit, Rupiah Kembali Tembus Rp14.000/USD

Rupiah - ekonomi.metrotvnews.comRupiah - ekonomi.metrotvnews.com

Neraca perdagangan pada bulan April 2018 yang diumumkan mengalami defisit, membuat tidak mampu bergerak naik ke zona hijau sepanjang perdagangan Selasa (15/5) ini. Alhasil, menurut Index pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda harus menutup dengan melemah 64 poin atau 0,46% ke level Rp14.037 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah sudah ditutup terdepresiasi 13 poin atau 0,09% di posisi Rp13.973 per dolar AS pada akhir Senin (14/5) kemarin. Tren negatif mata uang NKRI berlanjut pagi tadi dengan dibuka melemah 16 poin atau 0,12% ke level Rp13.989 per dolar AS. Sepanjang transaksi hari ini, spot praktis ‘betah’ berkubang di zona merah, mulai awal hingga tutup dagang.

Siang tadi, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada bulan April 2018 mengalami defisit sebesar Rp1,63 miliar dolar AS, yang di luar ekspektasi pemerintah. Defisit itu tercermin dari nilai yang sebesar 14,47 miliar dolar AS, sedangkan nilai menembus angka 16,09 miliar dolar AS.

“Dengan menggabungkan total ekspor dan impor, maka neraca perdagangan di luar ekspektasi, yaitu mengalami defisit sebesar 1,63 miliar dolar AS,” jelas Kepala BPS, Suhariyanto, Selasa siang. “Jadi, neraca perdagangan pada April ini kembali defisit. Impor yang tinggi tentu menjadi perhatian. Ke depan, tentu kita berharap ekspor berkembang lebih bagus sehingga neraca perdagangan kembali .”

Sementara, dari pasar global, indeks dolar AS kembali merangkak naik terhadap sekeranjang mata uang utama dunia pada hari Selasa, ketika harapan menurunnya tensi perdagangan mendorong imbal hasil AS bergerak lebih tinggi. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,058 poin atau 0,06% ke level 92,645 pada pukul 10.42 WIB.

Seperti dikutip Reuters, imbal hasil obligasi AS tenor 10-tahun naik tipis sekitar 1 basis poin di perdagangan Asia, menjadi 3,001%, setelah sebelumnya menguat 2 basis poin pada hari Senin. Kenaikan imbal hasil ini didukung tanda-tanda menurunnya tensi perdagangan, setelah Presiden AS, Donald Trump, berjanji untuk membantu ZTE Corp., perusahaan asal , kembali melanjutkan aktivitas bisnis mereka.

Loading...