Neraca Dagang Surplus, Rupiah Rebound di Awal Selasa

Rupiah - kabarbisnis.comRupiah - kabarbisnis.com

neraca bulan September 2018 yang mencatatkan surplus menjadi sentimen positif bagi untuk bangkit. Seperti dilaporkan Index, mata uang Garuda mengawali transaksi Selasa (16/10) ini dengan menguat 20 poin atau 0,13% ke level Rp15.200 per dolar AS. Sebelumnya, spot ditutup melemah 23 poin atau 0,15% di posisi Rp15.220 per dolar AS pada akhir Senin (15/10) kemarin.

Badan Pusat Statistik (BPS) kemarin melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia sepanjang September 2018 mencatatkan surplus sebesar 227 juta dolar AS. Nilai Indonesia tercatat mencapai 14,83 miliar dolar AS, naik 1,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara, nilai tercatat sebesar 14,60 miliar dolar AS, naik 14,18% dibandingkan September 2017.

“Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari-September 2018 mencapai 134,99 miliar dolar AS, atau meningkat 9,41% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” tulis data BPS. “Sektor nonmigas mencatatkan ekspor mencapai 122,31 miliar dolar AS, sedangkan ekspor migas mencapai 1,21 miliar dolar AS per September 2018.”

Menurut Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, surplus neraca perdagangan pada bulan September 2018 merupakan pertanda baik bagi domestik. Hal tersebut menunjukkan beberapa langkah bersama yang dilakukan Bank Indonesia dan pemerintah untuk menurunkan current account deficit (CAD), dan ada tanda-tanda mengarah ke perkembangan membaik.

“Terkait ekspor, memang belum optimal, terutama karena ekonomi China, yang merupakan negara tujuan ekspor utama Indonesia, masih relatif lambat,” ujar Perry. “Dengan ekonomi China yang melambat, wajar jika ke komoditas agak melambat. Namun, kita juga bersyukur bahwa ekspor naik.”

Sementara itu, analis uang Bank Mandiri, Reny Eka Putri, menuturkan bahwa data neraca perdagangan domestik yang surplus dibutuhkan agar volatilitas rupiah tetap terjaga. Meski demikian, untuk beberapa waktu ke depan, pergerakan mata uang Garuda masih akan didominasi faktor eksternal, terutama ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan perang dagang AS-China.

Loading...