Neraca Dagang Agustus Surplus, Rupiah Berakhir Menguat

Rupiah - beritakompas.comRupiah - beritakompas.com

JAKARTA – Dibuka merah, mampu bangkit ke teritori hijau pada transaksi Rabu (15/9) sore setelah neraca dalam negeri untuk bulan Agustus 2021 dilaporkan kembali mengalami . Menurut catatan Bloomberg Index pukul 14.58 WIB, Garuda berakhir menguat tipis 5 poin atau 0,04% ke level Rp14.242,5 per .

Sementara itu, mata uang di kawasan Benua Asia terpantau bergerak terhadap . Won Korea Selatan menjadi yang paling terpuruk setelah melorot 0,22%, diikuti baht Thailand yang melemah 0,12%, dan yuan China yang terdepresiasi 0,06%. Sebaliknya, peso Filipina mampu menguat 0,05%, sedangkan dolar Singapura bertambah tipis 0,02%.

“Pelemahan rupiah pagi tadi terjadi karena data AS hanya sedikit lebih rendah daripada ekspektasi pasar,” tutur analis pasar uang, Ariston Tjendra, dikutip dari CNN Indonesia. “Meski demikian, pelemahan rupiah tidak terlalu dalam karena rilis data -impor oleh Badan Pusat Statistik (BPS), dengan neraca perdagangan diperkirakan masih mencatatkan surplus.”

Siang tadi, BPS melaporkan nilai ekspor Agustus 2021 mencapai 21,42 miliar dolar AS atau naik 20,95% dibandingkan Juli 2021 dan melonjak 64,10% dibandingkan Agustus 2020. Sementara itu, nilai impor Agustus 2021 mencapai 16,68 miliar dolar AS, naik 10,35% dibandingkan Juli 2021 dan naik 55,26% dibandingkan Agustus 2020. Dengan demikian, neraca perdagangan Agustus 2021 mencatatkan surplus 4,74 miliar dolar AS.

Dari pasar global, dolar AS cenderung bergerak sempit pada transaksi hari Rabu, setelah inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan menimbulkan keraguan tentang pengurangan stimulus pada tahun ini. Mata uang Paman Sam tersebut terpantau menguat tipis 0,022 poin atau 0,02% ke level 92,645 pada pukul 10.18 WIB.

Dilansir dari Reuters, greenback telah berkutat di antara posisi 92,3 dan 92,9 selama seminggu terakhir karena beberapa pejabat menyarankan bank sentral AS mengurangi pembelian surat utang pada akhir tahun, bahkan setelah nonfarm payroll yang jauh lebih lemah. akan mengadakan pertemuan kebijakan moneter pada pekan depan, dengan investor ingin mengetahui apakah pengumuman tapering akan dibuat.

“Laporan yang lebih rendah meredakan kekhawatiran atas percepatan inflasi yang akan segera terjadi dan akan meniadakan tekanan yang tersisa pada The Fed untuk melakukan tapering pada bulan September,” ujar ahli strategi mata uang senior di National Australia Bank, Rodrigo Catril. “Namun, tapering tahun ini masih bisa terjadi, dengan November atau Desember sekarang terlihat lebih mungkin.”

Loading...