Neraca Dagang Surplus, Rupiah Justru Berakhir Melemah Tajam

Rupiah - ekbis.sindonews.comRupiah - ekbis.sindonews.com

JAKARTA – Rupiah harus terbenam di zona merah pada transaksi Rabu (15/7) sore, meski dalam negeri sepanjang bulan Juni 2020 kemarin dilaporkan mengalami secara bulanan. Menurut paparan Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda ditutup melemah tajam 137 poin atau 0,95% ke level Rp14.587 per dolar AS.

Siang tadi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja neraca dalam negeri sepanjang bulan Juni 2020 mengalami surplus bulanan sebesar 1,27 miliar dolar AS. Realisasi tersebut, walaupun lebih rendah daripada bulan Mei 2020 yang surplus sebesar 2,09 miliar dolar AS, namun lebih tinggi daripada Juni 2019 yang surplus 200 juta dolar AS.

ekspor selama Juni menggembirakan. Diharapkan geliat ekspor yang positif akan berlanjut di bulan-bulan berikutnya,” kata Kepala BPS, Suhariyanto, seperti dilansir CNN . “Ada beberapa komoditas yang mengalami peningkatan seperti minyak sawit, karet, kernel, tetapi batubara turun tipis. Sementara, ekspor pengolahan yang naik adalah minyak kelapa sawit, perlengkapan listrik, dan komputer.”

Secara rinci, kinerja ekspor ditopang oleh ekspor minyak dan gas (migas) yang mencapai angka 580 juta miliar dolar AS atau naik 3,8% dari bulan sebelumnya. Sementara, ekspor nonmigas sebesar 11,45 miliar dolar AS atau meningkat 15,73%. Peningkatan nilai ekspor migas terjadi karena harga minyak mentah Indonesia (ICP) naik 42,9% menjadi 36,6 dolar AS per barel pada Juni 2020, begitu juga harga beberapa komoditas ekspor nonmigas.

Sayangnya, data neraca perdagangan tersebut belum cukup membuat rupiah bergerak naik. Sentimen global, seperti perkembangan penularan yang mulai melambat juga gagal membantu mata uang Garuda. Seperti diketahui, meski masih ada penambahan jumlah pasien, namun penularan kasus COVID-19 relatif melambat, yakni menjadi 1,54% pada hari ini secara global, terendah sejak 8 Juli kemarin.

“Pasar sepertinya bisa bertahan di tengah kenaikan kasus corona dan tingginya risiko akibat karantina wilayah (lockdown) di beberapa tempat,” tutur Chief Market Strategist di CMC Markets, Michael McCarthy, seperti dilansir Reuters. “Saat ini, pasar tampak sedang bahagia meski ada risiko yang masih menghantui perekonomian dunia.”

Loading...