Neraca Dagang Surplus, Rupiah Justru Melempem di Penutupan

Data neraca Indonesia yang mengalami sepanjang 2016 ternyata belum cukup kuat untuk menyokong pergerakan hingga akhir . Menurut laporan Index pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda harus menutup sesi dagang awal pekan (16/1) ini dengan pelemahan sebesar 24 poin atau 0,18% ke level Rp13.362 per dolar AS.

Rupiah sebenarnya membuka perdagangan hari ini dengan menguat 13 poin atau 0,10% ke posisi Rp13.325 per dolar AS. Namun, jeda siang, mata uang Garuda berbalik 9 poin atau 0,07% ke Rp13.347 per dolar AS. Jelang penutupan atau pukul 15.55 WIB, spot masih tertahan di zona merah usai 29 poin atau 0,22% ke Rp13.367 per dolar AS.

Siang tadi, Badan Pusat Statistik () melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada bulan Desember 2016 mengalami surplus 990 juta dolar AS, dengan nilai ekspor 13,77 miliar dolar AS dan impor mencapai 12,77 miliar dolar AS. Ekspor non-migas menjadi pendorong utama karena mengalami kenaikan sebesar 1,13% dibandingkan bulan Oktober 2016.

Data tersebut di atas konsensus Bloomberg (melibatkan 14 ekonom) yang memprediksi neraca perdagangan surplus 902 juta dolar AS pada Desember 2016. Sementara, memperkirakan neraca perdagangan Desember 2016 surplus 0,82 miliar dolar AS yang didorong kenaikan ekspor beberapa komoditas seperti , tembaga, karet, nikel, dan batu bara.

Secara keseluruhan, di sepanjang tahun 2016, neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus 8,78 miliar dolar AS, atau naik 1,11 miliar dolar AS dibandingkan neraca perdagangan 2015 yang sebesar 7,67 miliar dolar AS. Lonjakan surplus neraca perdagangan ini terbantu turunnya nilai impor Indonesia sepanjang 2016 yang hanya 135,6 miliar dolar AS, jauh dari angka 142,5 miliar dolar AS pada tahun 2015 lalu.

“Meski mengalami surplus, ekspor Indonesia masih menurun dibandingkan tahun 2015. Ekspor minus 3,95%, sedangkan impor minus 4,94%,” ujar Kepala BPS, Suhariyanto. “Ini mengindikasikan bahwa perekonomian Indonesia masih belum sepenuhnya.”

Loading...