Neraca Dagang Surplus, Rupiah Berakhir Positif

Rupiah menguatRupiah mampu mempertahankan penguatan pada perdagangan Senin (24/6) sore - berempat.com

JAKARTA – mampu mempertahankan posisi di zona hijau pada Senin (24/6) sore seiring dengan laporan neraca domestik yang mengalami sepanjang Mei 2019 kemarin. Menurut data Bloomberg Index pada pukul 15.56 WIB, mata uang Garuda menguat tipis 8 poin atau 0,06% ke level Rp14.147 per AS.

Siang tadi, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa dalam negeri sepanjang bulan Mei 2019 mengalami surplus sebesar 210 juta , menyusul ekspor yang meningkat 12,42% dibandingkan ekspor bulan sebelumnya. Dengan demikian, ekspor bulan Mei 2019 tercatat sebesar 14,74 miliar , sedangkan sebesar 14,53 miliar dolar AS.

“Kondisi tersebut menjadi sinyal positif bagi perekonomian domestik Indonesia,” papar Kepala BPS, Suhariyanto. “Ke depan, kami berharap neraca perdagangan dalam negeri dapat semakin membaik dengan berbagai kebijakan pemerintah, terutama yang dikerahkan lintas kementerian dan lembaga. Namun, kita masih memiliki pekerjaan rumah untuk memperbaiki neraca dagang ini.”

Kondisi neraca dagang pada Mei 2019 lebih membaik dibanding dengan tahun lalu. Berdasarkan data BPS, neraca dagang Mei 2018 kemarin mencatatkan defisit hingga 1,46 miliar dolar AS. Tetapi, dibanding dengan Mei 2017 yang mencatatkan surplus 560 juta dolar AS, neraca dagang Mei 2019 ternyata masih sedikit tertinggal.

Sementara itu, dari , indeks dolar AS masih bergerak lebih rendah pada hari Senin, termasuk terhadap euro, di tengah prospek penurunan suku bunga jangka pendek oleh Federal Reserve. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,076 poin atau 0,08% menuju level 96,144 pada pukul 12.40 WIB, melanjutkan tren negatif di awal transaksi.

Seperti diberitakan Reuters, nilai tukar dolar AS menurun setelah pada pekan lalu membuka pintu bagi penurunan suku bunga acuan pada awal bulan depan. Hal ini membebani greenback dan akhirnya mendorong mata uang lain, seperti euro, yang sebenarnya memiliki masalah sendiri, termasuk masalah keuangan Italia dan kemungkinan kelonggaran kebijakan oleh European Central Bank (ECB).

“Memang benar bahwa ECB mungkin harus melonggarkan kebijakan, terutama dengan The Fed telah bergeser ke pelonggaran moneter,” tutur ahli strategi mata uang senior di Daiwa Securities, Yukio Ishizuki. “Tetapi, ECB sudah menerapkan kebijakan suku bunga negatif dan tidak memiliki ruang lebih jauh untuk meringankan, tidak seperti The Fed. Faktor-faktor seperti inilah yang tampaknya mendukung euro.”

Loading...