Neraca Dagang Juli Surplus, Rupiah Justru Ditutup Negatif

Rupiah - infonawacita.comRupiah - infonawacita.com

JAKARTA – Neraca bulan Juli 2020 yang dilaporkan mengalami ternyata tidak mampu mempertahankan di area hijau pada Selasa (18/8) sore meskipun sempat dibuka menguat tajam. Menurut catatan Bloomberg Index pada pukul 14.58 WIB, Garuda berakhir melemah 50 poin atau 0,34% ke level Rp14.845 per AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan pukul 10.00 WIB menetapkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.907 per dolar AS, menguat 10 poin atau 0,07% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.917 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, rupiah justru harus berbalik terdepresiasi 30 poin atau 0,20% ke posisi Rp14.825 per dolar AS.

Siang tadi, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa Indonesia selama periode Januari hingga Juli 2020 mengalami surplus sebesar 8,75 miliar dolar AS. Capaian surplus yang cukup besar ini ditopang oleh realisasi yang lebih banyak surplus sepanjang 2020. Dari tujuh bulan yang berlangsung sejauh ini, lima di antaranya mencatatkan surplus. Khusus Juli 2020, surplus tercatat 3,26 miliar dolar AS, lebih tinggi dari bulan sebelumnya.

“Jadi, Alhamdulillah Juli 2020 ini kita masih surplus 3,26 miliar dolar AS dan kalau dilihat surplus didominasi oleh non-migas kita,” papar Kepala BPS, Suhariyanto, dilansir Kompas. “Surplus terjadi lantaran ada peningkatan ekspor yang cukup tinggi secara bulanan, yakni sebesar 14,33%. Sementara itu, justru turun sebesar 2,73% secara bulanan.”

Lebih rinci dijelaskan, nilai ekspor mencapai 13,73 miliar dolar AS atau naik 14,33% dari Juni 2020. Sementara, nilai impor 10,47 miliar dolar AS atau turun 2,73% dari bulan sebelumnya. Kinerja ekspor ditopang oleh ekspor minyak dan gas (migas) mencapai 700 juta dolar AS atau naik 23,77% dari bulan sebelumnya, sedangkan ekspor non-migas sebesar 13,03 miliar dolar AS atau meningkat 13,86%.

Dari pasar global, indeks dolar AS terhuyung-huyung di dekat titik terendah pada hari Selasa, setelah penurunan imbal yield AS tiga kali beruntun, data ekonomi AS yang lemah, dan penurunan permintaan aset safe haven memberikan tekanan jual yang luas. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,292 poin atau 0,31% ke level 92,559 pada pukul 14.10 WIB.

Loading...