Neraca Dagang Indonesia Defisit, Rupiah Terjungkal di Penutupan

Neraca pada bulan Juli 2017 yang dilaporkan mengalami defisit langsung mendorong rupiah untuk berbalik arah ke zona merah. Menurut catatan Index pukul 15.58 WIB, Garuda harus menutup transaksi Selasa (15/8) ini dengan pelemahan sebesar 12 poin atau 0,09% ke level Rp13.361 per dolar AS.

Rupiah sempat membuka perdagangan di zona hijau dengan menguat tipis 1 poin atau 0,01% di posisi Rp13.348 per dolar AS. Namun, istirahat siang, mata uang Garuda berbalik 4 poin atau 0,03% ke level Rp13.353 per dolar AS. Jelang penutupan atau pukul 15.50 WIB, spot masih tertahan di zona merah setelah terdepresiasi 13 poin atau 0,10% ke posisi Rp13.362 per dolar AS.

Siang tadi, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia di bulan Juli 2017 mengalami defisit sebesar 270 juta dolar AS, dengan angka yang tercatat sebesar 13,62 miliar dolar AS, lebih rendah dari realisasi impor yang sebesar 13,89 miliar dolar AS. Sementara, secara kumulatif, neraca dagang masih mencetak sebesar 7,39 miliar dolar AS sepanjang Januari-Juli 2017.

“Penyebab neraca perdagangan mengalami defisit di bulan Juli karena terjadi kenaikan impor bahan baku dan bahan penolong atau barang modal yang luar biasa tinggi setelah Lebaran, dengan naik 39% dibandingkan bulan sebelumnya,” kata Kepala BPS, Suhariyanto. “Tetapi, impor ini diharapkan dapat menggerakkan industri sehingga mendorong ekonomi.”

Sebaliknya, dari global, mata uang Paman Sam mampu bergerak naik seiring dengan tensi ketegangan antara AS dengan Korea Utara yang mereda. Setelah dibuka dengan kenaikan sebesar 0,110 poin atau 0,12% di level 93,521, mata uang kembali melanjutkan tren positif dengan menguat 0,078 poin atau 0,08% ke posisi 93,489 pada pukul 09.31 WIB.

Kantor berita Korea Utara hari ini mengabarkan bahwa negara yang dipimpin diktator Kim Jong-un tersebut akan mengawasi tindakan AS untuk sementara waktu. Selain itu, greenback juga mendapat dorongan setelah Ketua Fed wilayah New York, William Dudley, mengatakan bahwa dirinya mendukung kenaikan suku bunga lanjutan. “Retorika mereda, dan saya pikir pasar juga condong ke arah itu,” ujar Kepala Perdagangan di Asia Pasifik untuk OANDA, Stephen Innes, seperti dikutip dari Reuters.

Loading...