Neraca Dagang Defisit, Rupiah Malah Melaju di Akhir Transaksi

rupiah menguat

Meski neraca perdagangan dalam negeri pada bulan Desember 2017 dilaporkan mengalami defisit, namun rupiah tetap mampu melaju di zona hijau imbas pelemahan yang dialami . Menurut laporan Index pukul 15.59 WIB, Garuda mengakhiri Senin (15/1) ini dengan penguatan sebesar 21 poin atau 0,16% ke level Rp13.332 per dolar .

Sebelumnya, rupiah sudah ditutup naik 47 poin atau 0,035% di posisi Rp13.353 per dolar AS pada perdagangan akhir pekan (12/1) lalu. Tren positif mata uang NKRI berlanjut pagi tadi dengan menguat 34 poin atau 0,25% menuju level Rp13.319 per dolar AS ketika membuka . Sepanjang transaksi hari ini, spot praktis bergulir nyaman di zona hijau, dari awal hingga akhir dagang.

Siang tadi, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada bulan Desember 2017 kemarin mengalami defisit sebesar Rp270 juta dolar AS, atau yang pertama kali sejak bulan Juli 2017. Defisit neraca dagang dalam negeri salah satunya disebabkan minyak dunia yang terus mengalami kenaikan, sehingga mengakibatkan neraca perdagangan migas mengalami defisit sebesar 1,04 miliar dolar AS.

“Neraca perdagangan pada Desember 2017 mengalami defisit sebesar 270 juta dolar AS, yang merupakan defisit kedua sejak bulan Juli 2017,” ujar Kepala BPS, Suhariyanto. “Neraca perdagangan yang defisit itu berpengaruh pada nilai ekspor di akhir tahun yang menurun sebesar 14,8 miliar dolar AS atau melemah 3,45% dibandingkan bulan November 2017.”

Meski demikian, secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia sepanjang tahun 2017 lalu mengalami surplus sebesar 11,84 miliar dolar AS, lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 9,53 miliar dolar AS dan tahun 2015 yang tercatat sebesar 7,67 miliar dolar AS. Surplus ini didukung oleh surplus non-migas sebesar 20,40 miliar dolar AS, sehingga mampu menutup defisit sektor migas yang mencapai 8,56 miliar dolar AS.

Sementara itu, dari pasar , indeks dolar AS terpantau masih merayap di zona merah pada perdagangan hari ini, sedangkan mata uang euro mampu ‘terbang’ didukung harapan investor mengenai pengurangan stimulus moneter oleh European Central Bank (ECB). Mata uang Paman Sam melemah 0,2% menuju level 90,807 pada pukul 05.16 GMT, sedangkan euro naik 0,1% menuju level 1,2206 dolar AS.

“Saya pikir kekuatan euro ini terlalu berlebihan,” ujar kepala strategi mata uang di Mizuho Securities, Masafumi Yamamoto, seperti dilansir Daily Mail. “Kekuatan mata uang Benua Biru itu sendiri akan menunda normalisasi . ECB akan melakukan pengetatan verbal, sehingga mereka tidak perlu beralih pada kebijakan suku bunga.”

Loading...