Negosiasi AS-China Buntu, Rupiah Anjlok di Senin Sore

Rupiah melemah sepanjang perdagangan Senin (13/5)Rupiah melemah sepanjang perdagangan Senin (13/5) - detik.com

JAKARTA – harus puas nangkring di teritori merah sepanjang perdagangan Senin (13/5), di tengah kebuntuan pembicaraan antara AS dan , yang membuat mayoritas uang Asia bergerak loyo. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 15.56 WIB, uang Garuda melorot 98 poin atau 0,68% ke level Rp14.425 per AS.

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.362 per dolar AS, terdepresiasi 15 poin atau 0,10% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.347 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berdaya melawan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,64% dialami yuan China.

Dari pasar global, indeks dolar AS mampu berbalik naik pada hari Senin, di tengah meningkatnya kekhawatiran apakah AS dan China akan dapat menyelesaikan negosiasi perdagangan setelah Washington menaikkan impor terhadap asal Negeri Panda. Mata uang Paman Sam terpantau menguat tipis 0,1 poin atau 0,01% ke level 97,340 pada pukul 12.40 WIB.

Diberitakan Reuters, AS China menghadapi kebuntuan perundingan perdagangan pada hari Minggu (12/5) ketika Washington menuntut janji perubahan konkret terhadap hukum Negeri Tirai Bambu. Konflik perdagangan sendiri telah meningkat setelah AS resmi menaikkan tarif impor sebesar 25% terhadap produk China senilai 200 miliar dolar AS.

Penasihat Gedung Putih, Larry Kudlow, mengatakan kepada sebuah program Fox News bahwa China perlu menyetujui ketentuan penegakan hukum yang ‘sangat kuat’ untuk kesepakatan akhirnya dan yang menjadi masalah adalah keengganan Beijing untuk melakukan perubahan hukum yang telah disepakati. Ia menegaskan tarif AS akan tetap berlaku sementara negosiasi berlanjut.

“Di tengah konflik perdagangan antara AS dan China, reaksi keseluruhan mata uang sesungguhnya bergerak secara terbatas,” ujar kepala strategis valas di Mizuho Securities di Tokyo, Masafumi Yamamoto. “Hal tersebut disebabkan ada juga yang mendukung harapan adanya penyelesaian akhir dagang, yaitu kemungkinan pertemuan presiden kedua negara di KTT G20.”

Meski demikian, masih banyak ekonom yang pesimis tentang negosiasi dagang antara AS dan China. Kepala strategi makro global di TD Securities, Michael Hanson, mengatakan bahwa mereka melihat risiko yang signifikan untuk semua impor dari China akan dikenakan tarif selama sebulan atau lebih. “Kasus dasar kami adalah kemajuan terbatas dan akan ada pembalasan dari China,” katanya.

Loading...