Puncak COVID-19 Belum Tampak, Negara Eropa Tetap Longgarkan Lockdown

Negara Eropa Longgarkan Lockdown - www.newcastleherald.com.auNegara Eropa Longgarkan Lockdown - www.newcastleherald.com.au

WINA/ROMA/MADRID – Beberapa di Benua Eropa mulai melonggarkan kebijakan lockdown ketika tren kasus infeksi di tersebut terlihat stabil dan menurun. Meski demikian, Organisasi Dunia (WHO) memperingatkan bahwa puncak pandemi di wilayah tersebut belum terlihat sehingga menyarankan agar semua negara harus tetap waspada.

Dilansir dari Deutsche Welle, Austria menjadi salah satu negara Eropa pertama yang mengendurkan tindakan lockdown. Dengan jumlah infeksi baru -19 yang stabil, ribuan toko di seluruh negara mulai membuka kembali pintu mereka pada hari Selasa (14/4) kemarin setelah ditutup selama kurang lebih satu bulan.

Usaha kecil, serta toko perangkat keras dan berkebun, diizinkan untuk kembali beroperasi, tetapi semua diwajibkan mengenakan masker dan menjaga jarak sosial. Sementara, pusat-pusat perbelanjaan, toko-toko yang lebih besar, dan penata rambut akan dibuka kembali mulai 1 Mei, sedangkan restoran dan hotel dapat beroperasi mulai pertengahan Mei, demikian menurut keterangan Kanselir Austria, Sebastian Kurz.

Di Spanyol, Perdana Menteri Pedro Sanchez pada hari Senin (13/3) kemarin mengizinkan beberapa pekerja untuk kembali bekerja, dengan polisi dan unit medis membagikan masker di kereta api kepada para warga. Beberapa pekerja di dan konstruksi diizinkan untuk melanjutkan pekerjaan karena pemerintah Spanyol ingin memulai kembali manufaktur.

Namun, toko-toko dan layanan ritel masih diharuskan tetap tertutup dan pekerja kerah putih masih harus bekerja dari rumah. Pasalnya, para ahli memperingatkan bahwa banyak tidak memiliki akses ke peralatan kesehatan yang cukup untuk melindungi karyawan mereka. Beberapa pekerja bahkan menuturkan, pelonggaran pembatasan dapat memicu peningkatan infeksi coronavirus. Toko-toko, bar, dan ruang publik dijadwalkan tetap tutup hingga setidaknya 26 April.

Negara Eropa yang paling terdampak, Italia, telah mengizinkan toko buku, toko alat tulis, dan toko yang menjual pakaian bayi beroperasi kembali berdasarkan uji coba pada hari Selasa, meskipun secara resmi diharuskan ditutup secara nasional hingga 4 Mei. Meski begitu, beberapa pemerintah daerah tetap memilih untuk menutup toko buku dan toko alat tulis, termasuk daerah utara Lombardy dan Piemonte, yang terpukul keras.

WHO sendiri menuturkan akan mengeluarkan pedoman tentang langkah-langkah yang perlu diambil sebelum meredakan pembatasan apa pun. Juru bicara WHO, Dr. Margaret Harris, dalam jumpa pers di Jenewa kemarin mengatakan bahwa wabah dunia secara keseluruhan, 90 persen kasus, datang dari Eropa dan Amerika Serikat. “Jadi, kita tentu belum melihat puncaknya,” katanya.

Sementara itu, Komisi Eropa telah meminta negara-negara untuk mengoordinasikan rencana keluar dari lockdown, ketika beberapa negara anggota memulai, mempertimbangkan, atau mengurangi pembatasan. Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas, menyarankan bahwa aplikasi smartphone tunggal dapat digunakan untuk membantu negara-negara anggota mengoordinasikan kapan dan bagaimana cara memudahkan aturan lockdown dan memastikan langkah-langkah yang lebih aman.

“Sangat penting kita tidak berakhir dengan tambalan 27 aplikasi coronavirus dan 27 perlindungan data, tetapi berkoordinasi sebaik mungkin,” kata Maas dalam sebuah wawancara dengan kelompok media Funke asal Jerman. “Aplikasi semacam itu akan membantu memudahkan perjalanan dan penutupan perbatasan di dan juga melindungi privasi pribadi.”

Loading...