Aset Safe Haven Selama Krisis, Ini Negara dengan Cadangan Emas Terbanyak

Cadangan Emas selama pandemi COVID-19 - www.forbes.comCadangan Emas selama pandemi COVID-19 - www.forbes.com

WASHINGTON – Di tengah ketidakpastian ekonomi , telah lama disebut-sebut sebagai aset safe haven, termasuk ketika dilanda pandemi COVID-19 seperti sekarang ini. Sementara ‘standar ’ ditinggalkan pada tahun 1970-an, ini masih dipegang oleh bank- di seluruh dunia karena kemampuannya untuk memberikan stabilitas. Karena itu, tidak mengherankan jika kemudian banyak yang akhirnya menimbun lebih banyak mulia.

Dilansir dari TRT World, emas dianggap tidak terlalu rentan terhadap volatilitas politik atau ekonomi dan dapat dikonversi menjadi uang tunai jika diperlukan. Bank sentral menambah 650 ton ke cadangan mereka pada 2019, pergeseran tertinggi kedua dalam 50 tahun, setelah 656 ton ditambahkan pada tahun sebelumnya. Sebelum krisis keuangan 2008, bank sentral adalah penjual bersih emas di seluruh dunia selama beberapa dekade.

Sebelum pandemi memukul ekonomi, telah ada upaya besar oleh bank sentral untuk memulangkan emas mereka, sebagian besar dari penyimpanan di New York dan Bank of England. Venezuela mulai memulangkan emasnya pada 2011, mengirim 160 ton dari New York. Sepertiga kepemilikannya tetap di London, tetapi Inggris tidak akan mengembalikannya karena tidak mengakui pemerintah Maduro. Awal bulan ini, Pengadilan Tinggi Inggris memutuskan melawan Caracas dalam pertempuran hukum atas akses ke 1 miliar dolar AS emas Venezuela yang disimpan di Bank of England.

Emas juga dianggap sebagai lindung nilai yang baik terhadap risiko inflasi karena kenaikan harga barang dan jasa cenderung mengikis nilai . Ketika bank sentral mencetak lebih banyak uang sebagai bagian dari upaya untuk merangsang ekonomi, inflasi menimbulkan ketakutan dan aset seperti emas, yang cenderung mempertahankan nilainya secara riil dalam jangka waktu yang lama, dianggap sebagai perlindungan terhadap risiko itu.

Pada paruh pertama 2020, emas telah menikmati kinerja yang luar biasa, meningkat 16,8% dalam dolar AS dan secara signifikan mengungguli semua kelas aset utama lainnya. Pada akhir Juni kemarin, diperdagangkan pada harga 1.770 dolar AS per ons, level yang tidak terlihat sejak 2012. Sejak awal 2020, Bank Sentral Turki telah membeli 148 ton, menjadikannya pembeli resmi emas terbesar tahun ini. “Emas melambangkan kekuatan negara,” ujar Adam Glapinski, Gubernur Bank Nasional Polandia.

Meski menjadi pembeli terbesar, Turki ternyata belum termasuk sebagai salah satu negara yang memiliki cadangan emas tertinggi di dunia. Menurut data yang dirilis World Gold Council, AS masih menjadi penyimpan emas terbanyak, dengan aset sebesar 8.133,5 ton atau 78,9% . Lebih dari setengah cadangan emas mereka (4.583 ton senilai 236,4 miliar dolar AS) disimpan di Reservation Bullion AS di Fort Knox.

Negara berikutnya dengan cadangan emas terbanyak adalah Jerman, yang total memiliki 3.363,6 ton atau 75,2% cadangan devisa. Antara 2012 hingga 2017, negara tersebut memulangkan total 674 ton dari Paris dan New York ke Frankfurt. Jerman dibuntuti Italia yang memiliki cadangan emas 2.451,8 ton, yang tidak dipunyai pemerintah, melainkan oleh Banca d’Italia, dan disimpan di brankas di Roma, Swiss National Bank, Federal Reserve di New York, dan Bank of England.

Kemudian, ada Prancis dengan 2.436 ton emas, atau 65% cadangan devisa. Sebagian besar emas Prancis diperoleh selama tahun 1950-an dan 1960-an, dan disimpan di lemari besi di bawah Banque de France di Paris. Bank sentral Prancis telah menjual sedikit emasnya selama beberapa tahun terakhir, dan ada seruan untuk menghentikan kebijakan tersebut sama sekali.

Negara Eropa lainnya yang punya emas berlimpah adalah Rusia dengan 2.299,2 ton emas, atau 22,6% dari cadangan devisa. Bank Sentral Rusia sendiri telah menjadi pembeli emas terbesar selama tujuh tahun terakhir, dan cadangannya telah meningkat lebih dari 400 ton dalam dua tahun terakhir saja. Pada 2017, mereka membeli 224 ton emas dalam upaya diversifikasi menjauh dari dolar AS, karena hubungannya dengan Barat mendadak dingin sejak aneksasi Krimea pada 2014.

Ekonomi terbesar kedua di dunia, China, juga memiliki banyak , total 1.948,3 ton atau 3,4% dari cadangan devisa. Negeri Panda adalah produsen terbesar di dunia, bertanggung jawab atas 12% dari produksi tambang . Mereka juga merupakan konsumen terbesar, karena permintaan lokal untuk logam mulia telah didorong oleh kelas menengah yang sedang tumbuh.

Menyusul China, ada Swiss dengan total 1.040 ton emas atau 6,5% dari cadangan devisa. Walau berada di peringkat ketujuh, negara ini memiliki cadangan emas per kapita terbesar. Di bawah Swiss, ada Jepang dengan 765,2 ton emas terutama didukung kebijakan suku bunga negatif yang memicu permintaan logam, India dengan 654,9 ton emas sekaligus konsumen terbesar kedua, serta Belanda dengan 612,5 ton emas yang menganggap emas sebagai celengan sempurna untuk sistem keuangan dalam persiapan menuju kiamat ekonomi.

Loading...